
“PENCEGAHAN BULLYING DI LINGKUNGAN SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA SMK YAPIA PARUNG”
Pengabdian Kepada Masyarakat di SMK Yapia Parung
Mahasiswa/i Fakultas Hukum Universitas Pamulang melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SMK Yapia Parung yang diadakan pada 14-16 Mei 2024, dan dihadiri oleh Siswa dan Siswi SMK Yapia Parung serta Kepala Sekolah SMK Yapia Parung bapak A ROUP RAHMAN,M. PD. I. Acara dibuka dengan sambutan bapak DR.DODI SUGIANTO S.H.,M.H.Mkn, Selaku Dosen Pembimbing Pengabdian Kepada Masyarakat. Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung dan berkontribusi dalam pelaksanaan PKM ini.
“Saya mengapresiasi dan berterima kasih kepada SMK Yapia Parung khususnya kepada bapak ROUP RAHMAN,M. PD. I. serta jajarannya yang sudah mengijinkan dan membantu terlaksananya acara ini. Semoga acara ini dapat bermanfaat untuk Siswa dan Siswi SMK Yapia Parung” ucapnya.
bapak ROUP RAHMAN,M. PD. I. selaku Kepala Sekolah SMK Yapia Parung juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Fakultas Hukum Universitas Pamulang atas penyelenggaraan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat.
“Semoga dengan terselenggaranya kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dapat bermanfaat khususnya untuk Siswa dan Siswi SMK Yapia Parung.” ucapnya.
Kegiatan dimulai dengan sambutan dari dosen pembimbing dan kepala sekolah. Selanjutnya Tim PKM yang di wakilkan oleh Fitriyah Ningsih, Yosi Umbara, Gadis Pramodhavardani Latul, Wahyu Dony Setiawan dan Sanrais Gea memberikan pemaparan materi mengenai . “PENCEGAHAN BULLYING DI LINGKUNGAN SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA SMK YAPIA PARUNG “ Kata bullying yang merupakan bahasa Inggris, berasal dari kata bully yang artinya ialah mengganggu dan juga menggertak orang yang lebih lemah. Tindakan penculikan, penganiayaan bahkan intimidasi atau ancaman halus bukanlah sekedar masalah kekerasan biasa1. Tindakan ini disebut bullying, karena tindakan ini sudah bertahun-tahun dilakukan secara berulang, bersifat regeneratif, menjadi kebiasaan atau tradisi yang mengancam jiwa korban. Bullying ini merupakan salah satu bentuk tindakan dari agresi. Oleh karena dampaknya dianggap membahayakan korban, bullying diidentifikasikan sebagai berikut:
- Suatu perilaku yang tidak dapat diterima
- Kegagalan untuk mengatasi tindakan bullying akan menyebabkan tindakan agresi yang lebih jauh. mengatakan bahwa perilaku bullying adalah sesuatu yang endemik, dimulai ditahun-tahun pertama sekolah dan mengganas sepanjang karier akademik seorang siswa.
Dengan adanya perilaku bullying yang begitu meluas dimana-mana, sangatlah mengherankan bahwa perilaku ini bisa sulit sekali terdeteksi. Memang banyak dari perilaku-perilaku ini yang tidak teramati. Pelaku bullying teliti dalam menutupi perbuatan mereka dari pengamatan orang dewasa, mereka menggunakan ancaman dan tekanan untuk menutup mulut para sasaran dan saksi-saksi tentang perbuatan mereka. Dalam bullying ialah sebuah situasi. di mana terjadinya penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan fisik maupun mental yang dilakukan oleh seseorang/sekelompok, dan dalam situasi ini korban tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya. Sedangkan menurut Djuwita bullying ialah perilaku agresif yang dilakukan individu/kelompok yang merasa lebih berkuasa secara berulang yang bertujuan untuk menyakiti secara fisik, verbal, maupun psikologis kepada individu/kelompok yang merasa tidak berdaya melawan perlakuan tersebut. Hal yang membedakan antara perilaku bullying dengan perkelahian antar siswa ialah pada kasus bullying terdapat ketidaksetaraan power antara pelaku dan korban sedangkan perkelahian antar siswa masing-masingnya
.Unsur-Unsur Bullying
Coloroso (2003) menjelaskan bahwa bullying sesungguhnya akan selalu melibatkan ketiga unsur berikut ini:
- Ketidakseimbangan kekuatan:
Pelaku bullying dapat saja orang yang lebih tua, lebih besar, lebih kuat, lebih mahir secara verbal, lebih tinggi dalam status sosial, berasal dari ras yang berbeda, atau tidak berjenis kelamin yang sama. Sejumlah besar kelompok anak yang melakukan bullying dapat menciptakan ketidakseimbangan. Bullying bukan merupakan persaingan antar saudara kandung dan bukan pula perkelahian yang melibatkan dua pihak yang setara.
- Niat untuk mencederai:
Bullying berarti menyebabkan kepedihan emosional dan/atau luka fisik, memerlukan tindakan untuk dapat melukai, dan menimbulkan rasa senang di hati sang pelaku saat menyaksikan luka tersebut. Tidak ada kecelakaan atau kekeliruan, tidak ada keseleo lidah, tidak ada kaki yang salah tempat, tidak ada “Aduh, maaf, aku tidak bermaksud begitu.”
- Ancaman agresi lebih lanjut:
Baik pihak pelaku maupun pihak korban mengetahui bahwa bullying dapat dan kemungkinan akan terjadi kembali. Bullying tidak dimaksudkan sebagai peristiwa yang terjadi sekali saja.
- Teror:
Bullying adalah kekerasan sistematik yang digunakan untuk mengintimidasi dan memelihara dominasi. Teror yang menusuk tepat di jantung korban bukan hannya merupakan sebuah cara untuk mencapai tujuan tindakan bullying, teror itulah yang merupakan tujuan dari tindakan bullying tersebut.
- Faktor-faktor Perilaku Bullying
Priyatna (2010) menyebutkan bahwa tidak ada penyebab tunggal dari bullying. Banyak faktor yang terlibat dalam hal ini, baik itu faktor pribadi anak itu sendiri, keluarga, lingkungan, bahkan sekolah semua mengambil peran. 15
Semua faktor tersebut, baik yang bersifat individu maupun kolektif, memberi kontribusi kepada seorang anak sehingga akhirnya dia melakukan tindakan bullying. Berikut ini ialah beberapa penyebab dari lingkungan sehingga perilaku bullying bisa terjadi :
1. Faktor risiko dari keluarga untuk bullying:
a) Kurangnya kehangatan dan tingkat kepedulian orang tua yang rendah terhadap anaknya.
b) Pola asuh orang tua yang terlalu permisif sehingga anak pun bebas melakukan tindakan apa pun yang dia mau, atau sebaliknya.
c) Pola asuh orang tua yang terlalu keras sehingga anak menjadi akrab dengan suasana yang mengancam.
d) Sikap orang tua yang suka memberi contoh perilaku bullying, baik disengaja ataupun tidak.
e) Pengaruh dari perilaku saudara-saudara kandung di rumah.
2. Faktor risiko dari pergaulan untuk bullying:
- Suka bergaul dengan anak yang biasa melakukan bullying
- Anak agresif yang berasal dari status sosial yang tinggi dapat saja menjadi pelaku bullying demi mendapatkan penghargaan dari kawan- kawan sepergaulannya, atau sebaliknya.
- Anak yang berasal dari status sosial yang rendah pun dapat saja menjadi pelaku tindakan bullying demi mendapatkan penghargaan dari kawan- kawan di lingkungannya.
- Ikatan pergaulan antar anak yang salah arah sehingga mereka menganggap bahwa anak lain yang memiliki karakteristik berbeda dari kelompoknya dianggap “musuh” yang mengancam.
Pada sebagian anak remaja putri, agresi sosial terkadang dijadikan alat untuk menghibur diri Terkadang juga digunakan sebagai alat untuk mencari perhatian dari kawan-kawan yang dianggap sebagai saingannya.
- Faktor risiko dari sekolah dan media untuk bullying:
- Bullying akan tumbuh subur di sekolah, jika pihak sekolah tidak menaruh perhatian pada tindakan tersebut.
- Banyaknya contoh perilaku bullying dari beragam media yang biasa dikonsumsi anak, seperti: televisi, film, ataupun video game
- ada beberapa faktor lain penyebab perilaku bullying, yaitu:
- Tradisi turun temurun dari senior. Anggapan para remaja yang salah saat ini ialah seorang senior atau kakak kelas boleh melakukan apapun terhadap adik kelasnya. Meskipun anggapan ini sangat tidak benar, para senior tetap saja selalu semena-mena dan ini terus berlanjut dari tahun ke tahun.
- Balas dendam karena dulu pernah diberlakukan sama. Para korban bullying sebelumnya sering berfikir bahwa orang lain harus merasakan juga apa yang telah mereka rasakan. Hal inilah yang membuat bullying sulit untuk dihentikan.
- Ingin menunjukkan kekuasaan. Orang-orang yang merasa memiliki kemampuan lebih dalam hal fisik, ekonomi, kecerdasan dan lain-lain, cenderung selalu meremehkan orang-orang yang tidak punya kemampuan seperti mereka dan selalu ingin menunjukkan kekuasaannya tersebut.
- Marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini terjadi karena pelaku bullying biasanya sering menentukan apa yang harus dilakukan oleh para korbannya.
- Mendapatkan kepuasan tersendiri saat pelaku melakukan tindakan bullying tersebut.
- Perilaku dianggap tidak sopan menurut aturan kelompok tertentu. Aturan tersebut diciptakan oleh pelaku bullying dan biasanya aturan tersebut sering terkesan mengada-ada atau tidak masuk akal.
- Dampak Prilaku Bullying
dampak dari perilaku bullying ini sendiri sangat banyak terutama bagi para korbannya, antara lain:
1) Menjadi penghambat besar bagi seorang anak untuk mengaktualisasikan diri, karena korban merasa bahwa hal apapun yang ia lakukan akan salah dalam pandangan orang-orang terutama bagi para pelaku bullying tersebut.
2) Bullying tidak memberi rasa aman dan nyaman, membuat para korban bullying selalu merasa dibayangi rasa takut akan terintimidasi.
3) Merasa rendah diri serta tak berharga di lingkungan masyarakat akibat perlakuan bullying yang diterimanya.
4) Perasaan takut karena selalu menerima perlakuan bullying menyebabkan korban yang merupakan seorang siswa akan sulit berkonsentrasi dalam belajarnya.
5) Korban yang selalu merasa takut dan cemas menyebabkan ia tidak mampu untuk bersosialisasi secara baik dengan lingkungannya.
6) Perilaku bullying yang terjadi di sekolah menyebabkan para korban merasa enggan bersekolah untuk menghindari perilaku tersebut terjadi kembali padanya.
7) Korban bullying biasanya akan menjadi pribadi yang tertutup sehingga ia akan tidak percaya diri dan sulit berkomunikasi dalam lingkungannya.
8) Para korban bullying akan kehilangan rasa percaya diri kepada lingkungan yang banyak menyakiti dirinya. Berdasarkan uraian dampak dari perilaku bullying di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa para korban adalah pihak yang sangat dirugikan dalam sebuah tindakan bullying. Dampak yang diterima para korban tidak hanya membekas saat terjadinya perilaku bullying tersebut, tetapi akan terus membekas sepanjang hidupnya.
Setelah pemaparan materi dilakukan sesi tanya jawab oleh tim PKM untuk memastikan pemahaman materi yang disampaikan kepada peserta. Acara ditutup dengan foto bersama serta pemberian cindera mata untuk SMK Yapia Parung atas apresiasi atas partisipasinya dalam kegiatan PKM ini.
