Ichwanuddin Idrus : Tongkat Komando Sang Presiden

Sahabat Suara Ilmu, selamat jumpa lagi !
Ir. Sukarno, sarjana teknik lulusan ITB, adalah Presiden Indonesia yang paling rasional (selain Habibie) dan sangat antiklenik.
Akan tetapi, hal itu berbeda dengan anggapan sebagian rakyat Indonesia, yang mengganggap beliau selalu dijaga oleh tongkat sakti.
Sebuah tongkat yang selalu dibawanya, ke mana pun beliau pergi.
Dalam tujuh upaya pembunuhan atas dirinya, Presiden Sukarno selalu selamat. Perlindungan Allah itu dikait-kaitkan dengan kesaktian si-tongkat.
Menteri Transmigrasi Indonesia kala itu, Achadi, pernah bertanya kepada Presiden Sukarno apakah tongkat itu sakti.
Sukarno menjawab bahwa tongkat itu tidak mempunyai kesaktian sedikit pun.
Tongkat itu souvenir yang diperolehnya dari Presidem Filipina. Ia menyenanginya karena bentuk dan ukirannya bagus.
“Kalau kamu belum percaya juga, ” kata Sukarno kepada Achadi, “Pakailah tongkat itu untuk menginspeksi transmigran.”
“Tidak usah Yang Mulia,” jawab Achadi.
“Kamu takut, Di? Kalau kamu memakai tongkat itu ketika menginspeksi transmigran, kamu malah akan ditertawakan orang, karena dengan tubuh yang kecil, kamu akan kelihatan seperti badut bila membawa tongkat komando,” kata Sukarno sambil tertawa.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1962. Ketika itu Indonesia sedang dilanda kekeringan hebat akibat musim panas yang berkepanjangan.
Di suatu sore, Presiden Sukarno duduk mendinginkan diri di halaman belakang istana Merdeka, di Jakarta.
Ia ditemani oleh salah seorang pengawal pribadinya, Kol. (KKO) Bambang Widjanarko.
Ketika mereka sedang asyik berbincang, datanglah Kepala Rumah Tangga Istana menghadap Presiden Sukarno. Kepala RT Istana ini membawa seorang pria setengah tua.
Beberapa waktu sebelum itu, Kepala RT Istana pernah mengatakan kepada Presiden Sukarno bahwa ada seorang pemilik keris sakti yang ingin menjual keris itu kepada Preiden. Sukarno.
Keris itu, menurut sang pemiliknya, dapat menambah wibawa sang presiden sekaligus melindungi keselamatan dirinya.
“Paduka Yang Mulia, pemilik keris sakti itu telah datang. Bila diizinkan Paduka, dia ingin menghadap.”, kata Kepala RT Istana.
“Bawa dia ke mari”, jawab Sukarno.
Lelaki pemilik keris sakti segera menyodorkan kerisnya. Keris itu, menurutnya, sudah berusia ratusan tahun karena dibuat pada zaman Majapahit.
Luk atau lekuk kerisnya yang berjumlah lima, adalah refleksi kesaktian keris tersebut.
Setelah memegang dan mengamati keris itu, Presiden Sukarno bertanya kepada pemiliknya,
“Apa yang harus saya berikan sebagai tanda terima kasih?”
Sang pemilik keris rupanya sudah mempersiapkan jawaban. Ia minta sebuah mobil sebagai imbalan.
Sukarno berujar,
“Perkara mobil, gampang, tetapi buktikan dulu ucapanmu bahwa keris ini sakti”.
Dipandanginya pemilik keris itu, seraya berkata lagi,
“Coba kamu cabut keris ini dan minta agar ia menurunkan hujan, untuk menyuburkan kembali tanam-tanaman pertanian dan pepohonan yang sudah mulai mengering. Kalau kau bisa, dua mobil kusiapkan untukmu.”
Mendengar permintaan Sukarno, wajah pemilik keris pucat pasi. Ia tertunduk malu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sukarno segera menyerahkan kembali keris itu kepada pemiliknya sambil berkata,
“Bawa kerismu pulang dan simpan baik-baik.”
Itulah sikap rasional dan anti klenik sang Presiden
Namun dibalik semua itu, keyakinan sebagian rakyat Indonesia akan kesaktian tongkat komando Sukarno, makin menjadi-jadi. Dipicu peristiwa, ketika Presiden Sukarno selamat. Dalam upaya pembunuhan pada waktu sholat Idul Adha, di lapangan Istana Merdeka pada tahun yang sama, 1962.
Sahabat Suara Ilmu, gosip itu terdengar mengasyikan. Meski fakta-nya sungguh berbeda.
Jelang pemilu isu, fitnah dan gosip, konon bertebaran. Apalagi di masa kini, masa jaya media sosial.
Hati-hati yaa, siapa tahu kalian ditawari keris atau jimat sakti.
Sampai jumpa di tulisan awak berikutnya, tentu di Suara Ilmu.
Wasalam.
***
