Cerpen | Jacket Mewah & Konser
Soetiyastoko
Lama rasanya menunggu jam 13 di hari sabtu ini. Semua laporan sudah tuntas kubuat. Tadi yang terakhir, laporan keuangan perjalanan dinas bos-ku. Bon-bon dan kwitansi itu lembarannya banyak yang kecil-kecil. Termasuk karcis parkir dan tol. Terpaksa kutempelkan di kertas folio dan kuberi nomer.
Aku tidak heran, ada bon makan direstoran hebat, 3 sekaligus ditanggal yang sama, sedangkan jamnya berurutan.
Dalam satu siang, bos-ku mentraktir 3 orang klien dari institusi berbeda, ditemani menejer cabang.
Terkadang aku bertanya-tanya, benarkah perutnya kuat diisi tiga kali di suatu siang ?
Aah, itu bukan urusanku. Tugasku hanya mendokumentasikan acara itu. Tentu saja, nama klien dan instusisi serta nominal yang dikeluarkan. Selain menuntaskan laporan keuangan perjalanan keluar kotanya.
Yang pasti, total pengeluarannya itu lima sampai tujuh kali gajihku. Apalagi, bila perjalanan dinas-nya ke Indonesia Timur. Biayanya pasti jauh lebih besar. Ke Ambon, ke Jayapura, sungguh mahal. Tapi hasil penjualan di wilayah itu minim.
Kata bos-ku “tak layak market”, tapi tetap dikerjakan. Demi ketersediaan produk secara nasional. Lebih kearah sebagai pengabdian perusahaan. Selain membangun relasi jangka panjang, karena dari data yang dikompilasi perusahaan, banyak pimpinan di cabang-cabang nun jauh di sana; akhirnya jadi pimpinan di pusat.
Nah, di saat seperti itulah, panen bisa dipetik. Itu, kata bos-ku.
Belum juga jam 13, aku harus “teng – go” , aku ada janji dengan teman SMP-ku. Teman sebangku-ku. Dia adalah teman yang sering kuceritakan, di mana-mana. Yaa aku bangga punya teman seperti dia.
Yaa, mungkin karena dia sering memberi tumpangan saat pulang sekolah. Termasuk mentraktirku.
Ketika aku masuk Sekolah Menengah Kejuruan, dia lanjut sekolah umum, lalu kuliah di perguruan tinggi negeri idaman di luar kota.
Sedangkan aku lulus jurusan tata-buku, alhamdulillah langsung dipanggil perusahaan ini, tanpa melamar. Sombong dikit yaa, soal-nya nilai-nilai raport dan ijazah-ku, begitu deh !
Awalnya aku ditugaskan sebagai salah satu tenaga administrasi di bagian keuangan. Tujuh bulan kemudian diperbantukan jadi staf sekretaris direktur.
Dasar rejeki tak pernah salah alamat, aku direkomendasikan jadi sekretaris sales manager. Bersyukur gaji-ku berubah drastis. Dari di bawah UMR, jadi 35 persen di atasnya. Selain itu jika banyak pekerjaan yang harus selesai hari itu, yang berakibat pulang terlambat, aku diberi hak klaim uang naik taksi dan nasi kotak yang lumayan enak. Di atas standar belanja makan siang-ku. Rantangan.
“Hai, aku sudah di parkiran lantai 7, di C 15”
“Yaa, yaa tunggu sebentar lagi yaa, …. 20 menitan”
“Okay !”
Di depan pintu lift sudah banyak yang antri. Mau nyerobot, nggak enak. Nggak nyerobot, kasihan temanku, harus menunggu lama.
Aku tiba-tiba jadi heran, gedung setinggi dan sebesar ini “Lift-nya” hanya 4 saja.
Pintu lift itu terbuka, aku dan beberapa orang merangsek masuk, sesaklah jadinya.
Terdengar alarm, pintu tak mau menutup. Kelebihan muatan ! Kami saling pandang, berharap ada yang sukarela turun. Tak ada yang turun, juga !
Alarm itu berhenti dan pintu lift tertutup. Setelah sepasang Nenek – Kakek mengalah turun.
Aku jadi kepikiran dan merasa bersalah. Bagaimana kalau mereka itu ayah-ibuku. Tapi, yaa sudahlah. Toh mereka sukarela mengalah dan aku tidak memaksanya turun.
Bingung juga mencari posisi parkir mobil kawanku, aku tak biasa ke gedung tempat parkir.
“Hai ! Aku di sini !”
“Hai !” Setengah berlari kudekati kawan yang bercelana robek-robek di sana – sini.
Kami berpelukan melepas rindu. Terakhir ketemu sekitar 4 bulan yang lalu.
“Kita ngobrol di lantai 37 saja, di rooftop. Ada restoran dengan pemandangan senja yang asyik!”
Aku hanya bisa manut saja, aku hanya pernah dengar bahwa di gedung tower besar ini ada beberapa cafe, restoran dan tempat dugem.
“Maaf, yaa, … Bagaimana kalau kamu ganti baju dulu, biar santai, … Aku sengaja bawa baju untuk-mu di mobilku.”
Aku seperti kerbau dicocok hidung, kuturuti kemauannya. Aku berganti rok-kerja dengan celana jeans baru, lengkap dengan jacket bergaris-garis seperti selimut. Menutupi blues kerjaku. Pas. Postur tubuh kami sama, aku agak sedikit lebih tinggi. Mungkin sekitar 3 centi-an.
Terlihat dicermin empat dinding Lift, ada orang asing dan teman-ku. Orang asing itu, aku. Ini Lift khusus menuju lantai 35, 36 dan 37, wilayah entertaintment dan restaurant.
Aroma wangi bunga kamboja, kenanga dan dekorasi gaya pantai Bali menyambut kami. Temanku yang cantik tinggi semampai itu menyebut reservasi tempatnya. Waiter, lalu mengarahkan kami keposisi kursi yang paling pinggir. Menghadap ke barat, warna-warni langit senja menyambut.
Alunan musik hidup dari lima orang pemusik akustik dan paduan suara yang bersih, adalah latar belakang obrolan kami. Para seniman sepuh itu tampak riang menyanyikan “Besame mucho”.
Petikan gitar, bas betot, bongo dan suara saxophone itu memdayu-dayu.
Sebenarnya, aku lebih suka kalau temanku diam. Tidak bicara. Menatap detik-detik senja berlatar musik yang mempesona.
Kelapa bulat sudah di meja kami. Bukan kelapa muda biasa, tapi kelapa kopyor ! Di salah satu sisinya dipapras, lalu disetempel besi membara. Terbentuk logo dan nama restoran ini. Tampak indah, instagramable.
Kuraih gawai-ku, ingin sekali aku memfoto logo dibundar kelapa itu. Keren, Tapi kubatalkan niatku itu.
Tiba-tiba aku takut disebut norak oleh sahabatku itu. Tiba-tiba aku merasa ini bukan tempat yang layak untukku. Terlalu indah. Terlalu wah, bagiku yang hanya seorang sekretaris bergaji satu setengah UMR.
“Rummy, paspor-mu masih ada-kan ?”
“Paspor ?”
“Iyaa, paspor yang dibuatkan ayahku dulu, …. Waktu kita jalan-jalan ke Bangkok dulu”
“Yaa, yaa aku ingat sekarang, mestinya masih ada, … Tapi aku lupa, kusimpan di mana yaa ?!”
“Begini, Rum, aku ingin mengajakmu nonton konser di Singapura. Tiket-nya sudah ada. Hotelnya sudah diurus sekretaris bapakku, dekat dengan Venue. Kita tinggal berangkat jumat sore, pulangnya terserah kamu. Mau minggu pagi atau minggu sore, … Bisa yaa Rum, bisa dong, …”
“Aduh, gimana yaa Lindri, … Aku hari sabtu ‘kan masuk kerja, …. Lagian aku baru 5 bulan dipromosikan. Aku takut kalau kenapa-kenapa dengan pekerjaan-ku, ….”
“Hari gini, kelewatan banget kantor lu, … Masak hari sabtu gak libur, …. Udah, deh, lu atur saja, … Alasan apa kek, ….”
Aku tak diberinya kesempatan bicara.
“Sayang, lho, Rum, …. tiketnya kalau dirupiahkan 9 jutaan. Tadinya aku mau pergi dengan kakak-ku. Tapi dia gak jadi pergi. Pacarnya lulus S2 lebih cepat, hari wisudanya bersamaan konser itu”
Tiba-tiba aku merasa sedang dicoba diperalat oleh Lindri. Untuk menemaninya.
Dulu waktu aku diajak jalan-jalan ke Bangkok, kejadiannya mirip. Kakaknya tidak jadi berangkat, karena tiga minggu sebelum waktunya pergi, dia jatuh dari sepeda motor. Tulang pahanya patah.
Tapi dulu itu, aku merasa dapat rejeki yang tak disangka-sangka. 5 hari di negeri gajah. Lalu terbang ke Kualalumpur, bermalam 2 hari. Lanjut ke Singapura 2 hari sebelum pulang ke Jakarta.
Kini tiba-tiba aku merasa dilecehkan, dihina. Pekerjaanku dianggap enteng. Walaupun benar, gaji-ku sebulan, belum cukup untuk membeli selembar tiket konser.
Di rooftop ber AC amat dingin itu, keringatku bercucuran. Jacket mewah bermotif garis-garis seperti selimut itu, kutanggalkan.
Pembaca Suara Ilmu yang bijak, aku harus bersikap bagaimana ?
Bantuin dong !
BPA 16/09/2022 00:55:36
