Cerpen | Ketika Bunga Salam Gugur
Soetiyastoko
Sudah enam bulan, mungkin lebih seminggu, sejak terakhir kali daun-daun itu diborong tengkulak. Pucuk-pucuk hijau muda telah menjulur, dengan lembar lebih lebar.
Hanya satu cabang yang ke arah bangku-bangku taman yang tidak pernah dipangkas. Itu sesuai dengan perjanjian, saat tawar menawar. Batangnya tampak kekar.
Duduk di bawahnya, saat gawai di tangan. Jari-jari selalu kalah cepat, ketikan ide-ide yang tergelontor dari kepala. Seperti air terjun. Tak terputus alirannya.
Jadilah, cerita, artikel, puisi, skenario, renungan. Adonan berbagai berita dan peristiwa. Terbumbui dan mateng di situ. Dapur kata-kata alami, di bangku di bawah pohon salam.
Hujan yang selalu turun ditempat ini, dengan cepat merimbunkan kembali pohon tua di sudut halaman itu.
Cabang-ranting yang menjorok ke jalan, begitu padat. Matahari tak bisa tembuskan terik, ke gerumbul rindang itu.
Tukang sayur, tukang es, tukang kerupuk sering singgah di situ. Melepas lelah, menghitung uang, atau merapikan dagangan.
Terkadang, menunggu pembeli di situ.
Di atas tiang beton dekat gerbang, sebuah kendi yang selalu diisi ulang, bertenger di situ.
Terkadang ditemani cemilan, untuk siapa saja yang lewat berjalan kaki. Termasuk anak-anak es-em-ka yang sering melintas di jalan itu.
Rumah tua, penghuni tua yang selalu rindu celoteh dan tingkah anak-anak. Apalagi jika itu cucu-cucunya yang datang.
Halaman itu tidak cukup luas. Walau tiga mobil terparkir di sana. Cucu-cucu masih bisa bebas berlarian. Tanpa menyenggol apapun.
Hari ini lengang, tampak tumbuhan liar muncul di sana-sini. Disela paving blok berlumut. Satu dua mulai dicabuti. Namun tak pernah tuntas.
Lelaki tua itu tak cukup kuat menahan letih, untuk bersihkan seluruh halaman, dalam satu kesempatan.
Tukang taman langganannya, sudah lama tidak datang. Dia bilang, tak sanggup lagi mengurus halaman rumah itu. Walau ditawarkan upah besar.
Dulu, biasa memarkirkan gerobak pembawa peralatan kerja, di kiri gerbang pagar.
Senyumnya lebar, sapaannya riang. Setiap kali datang, lengkap dengan kerut-kerut catatan sejarah di wajahnya.
Dia sudah tahu, apa yang harus dikerjakannya. Dia sangat mengerti selera empunya rumah.
Sambil menikmati makan siang yang disajikan, berceloteh kisah hidupnya. Meski sering diulang, ulang.
Cerita-cerita sering memantik munculnya ide tulisan. Dari bahan artikel yang serius, puisi bahkan cerita pendek dan novel, ….
Tukang taman itu tidak hanya menjaga keindahan halaman, mengganti tanah pot-pot bunga, yang utama jadi “bidan” lahirnya beribu-ribu halaman tulisan.
Jadi, bila kini pak tua penghuni rumah itu sedikit resah, bukan karena halamannya mulai bersemak, disana-sini. Tapi, lebih karena kehilangan “cermin” tempat mendulang kata-kata.
Keadaan itu seolah kompak dengan surutnya media-media cetak, tempatnya mendapat honor. Bahkan dulu, ada yang tak segan memesannya untuk berbagai edisi. Mengasuh rubrik tetap.
Kini, yang seperti itu tak ada lagi. Paling-tidak, itulah yang dialaminya. Karya-karya mulai berkurang pembacanya.
Berbagai masukan sudah diterimanya. Dari yang menghimbau halus, atau yang kasar menghentak.
“Tulisan Bapak baik, namun pilihan kata dan gaya bahasa bapak, jadul. Terlalu formal ! . Apalagi paragrafnya panjang-panjang. Membosankan”.
Dia, bukannya tidak peduli dengan masukan-masukan itu. Namun, sering kali dirinya merasa seakan merendahkan pembacanya, bila berkalimat kekinian.
Sadar, biaya hidupnya dari tulisannya. Berusahalah dia untuk mematut-patutkan tulisan dengan gaya kekinian. Walau dirasanya “wagu tur lucu” , itu bahasa ibunya. Bahasa jawa, tahukah kamu maknanya ?
“Wagu, menggambarkan suatu hal atau perilaku (kata benda dan atau kata kerja) yang tidak luwes, yang tidak pada tempatnya, dan yang tidak seharusnya atau dalam istilah lain janggal. Aneh !”
Komentar dan masukan juga didapat dari cucunya, “Jadul banget, tulisan Eyang”
Sedang cucu perempuannya dari anak pertama, membantu membuat blog pribadi. Tulisan-tulisan yang terasa jadul, ditulis ulang oleh cucunya dengan kalimat-kalimat yang pendek.
Paragraf yang ringkas dan padat. Serta bahasa yang cenderung “songong” dan agak kurang “beradab”, menurut sang eyang. Ternyata gaya itu disukai.
Gaya yang menurut ukuran sang eyang, “wagu tur lucu”
Pengunjung blog-nya membludag dan iklannya mulai banyak.
Artikel terakhir yang dia kirim ke cucunya, belum juga ditayangkan. Dia bertanya-tanya. Merenung-renung. Hingga timbul pertanyaan untuk dirinya sendiri. “Apakah sedang rindu pada cucunya itu, atau terdesak ingin lihat artikelnya tayang ?!”
Bisa jadi, ingin tahu, apa saja komentar pembacanya. Karena kali ini dia beranikan diri menyapa dengan kata Bray , Bro dan kuy.
Bukan apa-apa, dia gelisah, karena penghunaan dan penempatannya, salah !
Itu dikatakan istrinya, ketika bunga-bunga salam gugur. Memenuhi bangku di belakang rumah.
Dia takut ada komentar pedas dari teman-teman sekolah dan kuliahnya dulu.
Tulisan hasil editan cucunya, memang selalu wagu, itu menurut diri-nya.
