CerpenSUSASTRA

Cerpen | Beuty & Pretty

Soetiyastoko

Entah seberapa merah telinga tertekan gawai, tapi sudah terasa basah-keringat. Dari seberang masih berloncatan kalimat-kalimat pucat, …

“Beuty, sebenarnya berat untuk menjawab pertanyaanmu, … Tapi tak apa, akan kujawab, … Barangkali bisa redakan beban-ku”

“Maaf, Pretty, bila itu mengganggu-mu, … Biasanya, kawan-kawan kita selalu senang. Cerita panjang lebar, bila ditanya soal cucu, …”

“Yaa, iyaa, Beuty, seharusnya begitu, … Tapi tidak dengan-ku. Jangankan cucu-cucu, anak-pun aku tak punya, …”

“Pretty, kok bisa begitu ? Bukankah terakhir kali kita ketemu, di halaman tempat praktek dokter kandungan. Kamu terburu-buru, kita tak sempat ngrumpi, …”

“Maafkan aku, yaa Beuty. Saat itu aku memang terburu-buru, sambil memegangi perut-ku. Dokter merujukku ke rumah sakit, …”

“Kamu, keguguran ?”

“Yaa, seperti itu. Tapi tak tepat begitu, ….”

“Lalu, … ?”

Ada suara tangis di ujung sana. Terisak-isak sendu. Lama, …

“Prett, Pretty, halo ?! , kamu masih di situ ?!”

“Yaa, …”

Hanya itu jawabnya dan suara tersedu itu menguat lagi. Beuty bingung mau ngomong apa. Mau ditutup, rasanya tak pantas dan tak sopan.

Bukankah awalnya, dirinya yang curhat, perihal menantunya yang kenes dan genit. Mirip dengan temannya yang sedang menangis di seberang sana.

Akhirnya Pretty menjawab,

“Beuty, beruntung kamu telah bahagia, bisa bermain sama cucu. Walau -katamu- capek, kalau harus momong cucu berjam-jam, …
Beuty, aku tak mungkin menikmati seperti diri-mu, …”

“Tapi, kamu ‘kan bahagia dengan suami-mu yang politikus tajir itu, … kelihatannya dia amat perhatian dan sayang pada-mu, Prett, …”

“Beuty, kamu terlalu lugu, … Atau pura-pura tidak tahu, … Dulu itu aku bohong pada-mu, … Nikah siri yang kuceritakan pada-mu dulu itu, …. Itu hanya alasan untuk tinggal berdua di rumah mewah yang ternyata hanya kontrakan.
Benar dia pernah berjanji untuk menikah siri dengan-ku, demi citra dan karier politik-nya.
Tapi ternyata tidak pernah ada pernikahan siri yang dia janjikan itu.”

Pretty yang bercerita, tapi Beuty yang terengah-engah sesak mendengarkan cerita jujur dari seberang sana.

“Pretty, sungguhkah begitu ?!”

“Sungguh, Beuty, itu yang sesungguhnya cerita-ku, …”

“Tapi kamu, masihkah dengan dia sekarang ? Kudengar dari kawan-kawan kita, hidup-mu glamor dan sibuk dengan bisnis dan keartisan-mu.”

Disebelah sana kembali terdengar isak tersendat, kali ini seperti lebih terkendali.

“Yaa, aku memang sering dapat panggilan jadi model fotografi namun itu lebih ke job tipu-tipu. Benar difoto-foto, tapi hasilnya jarang dipublikasikan. Fotografer-nya pun kebanyakan kelompok orang-orang hebat-tajir yang iseng motret, … “

“Orang iseng ? Begitu-kah ? Tapi kulihat pose-pose-mu berkebaya indah, menghias kalender yang kubeli. Kamu anggun dan cantik sekali, Pretty, …”

“Yaa, aku berkali-kali difoto dengan berbagai model kebaya, … Sempat juga aku jadi figuran iklan dan sinetron, muncul di acara kuis dan semacamnya …”

“Kamu hebat, Pretty, …!”

“Tak seindah yang kau kira Beuty, semua itu seperti kata Dik Toko, si pujangga tua menyitir pribahasa lama: semua tentang-ku hanya fatamorgana, …”.

“Beuty, aku tidak sedang merendah pada-mu, …. Andai saja kamu tahu aku yang sesungguhnya, aku tak yakin, … kamu menilpun aku”

“Nggak-lah, Pretty, aku nggak begitu, … aku ‘kan teman sebangku-ku saat kelas 2 SMA paspal, kamu pintar, kamu cerdas. Kamu yang mengajariku, saat aku tidak paham yang diajarkan guru. Fisika, Ukur sudut, Bahasa Inggris, bahasa Jerman, kamu paling fasih di kelas, saat itu !”

“Terima kasih, Beuty, … kamu juga hebat, kamu yang mengajariku ngaji. Membaca dan menulis huruf hijaiyah , …”

“Pretty, aku sudah lupa. Benarkah, aku mengajari-mu ngaji ?”

“Beuty, kalau kamu sampai lupa, telah ngajari aku, …. Aku bisa mengerti, karena hampir satu kelas kita, kamu-lah yang ajari ngaji. Bukan cuma aku.
Kau ingat, SMA kita es-em-a-nya, anak-anak orang kaya. Kebanyakan agama-nya cuma di KTP saja, salat-nya cuma idul fitri dan idul adha saja.
Jarang orangtua disekolah kita yang mengikutkan ngaji di madrasah kampung.
Tapi, orangtua-mu, menyewa guru ngaji privat di rumah-mu, … Itu kata-mu dulu, …”

Lalu ada jeda terisi bunyi kresek-kresek dan sepertinya saluran telpon itu terputus.

“Beuty, halo Beuty, terdengarkah suara-ku ?”

Gawai itu dipencet-pencet. Di cobanya menghubungi lagi, …
Sekali lagi dan lagi.

Diseberang sana, Beuty menghubungkan gawai-nya ke colokan listrik, dekat kaki piano.
Pembicaraan tadi terputus, bukan hanya karena dirinya bengong-bingung. Bateray-nya pun habis setrumnya.

“Paket !”
“Iyaa, tunggu sebentar !

Beuty bergegas kedepan, ke gerbang pagar.

“Lady Beutiful Heaven” nama-nya disebut sang kurir.

“Iyaa, Pak, saya sendiri, …”

“Sate kambing dan sop iga kambing muda, ….” Sambungnya pula.

Bungkusan indah itu berpindah tangan, melewati atas pintu gerbang yang terkesan amat tebal dan berat.


“Eyang Kakung, ayo makan, pesanan sudah datang”

Tangan tua yang mulai ada bercak-bercak kecoklatan itu sigap menata meja. Kulit putih jemari mulusnya yang tak lagi sekenyal puluhan tahun lalu, selalu menyajikan masakan enak. Walau kini bukan hasil olahannya sendiri. Tapi dibeli secara online.

Lelaki tua yang tampak bugar itu meletakan tablet-nya. Sedari pagi, baru sekarang gawai lebar itu lepas dari pandangannya. Entah berapa berita sudah dibacanya, atau berapa tulisan telah dititiki-nya.

Kini sudah duduk di kursi makan, berhadapan dengan Beuty yang tersenyum seraya mengisi piring lelaki yang telah puluhan tahun jadi kawan tidurnya.

“Nanti malam, kita ke rumah cucu kita yaa …. Gak usah lama-lama, mereka besok kembali sekolah”


Mobil buatan tahun 1997 itu menggerang gagah, keluar dari gerbang rumah. Beuty menarik pagar untuk menutupnya, derit-nya pintu besi itu mengatasi suara garang mobil yang disetir lelaki tua yang kata para tetangganya: awet muda.

Sama, seperti Beuty yang kata orang layaknya masih seorang ibu muda, beranak sekolah dasar atau awal SMP.

Semua itu berkat tekun minum jamu bertahun-tahun dan senam pernafasan, kata-nya. Ketekunan, tak pernah mengingkari hasil upaya. Kalimat klise yang enak didengar, namun sedikit yang konsisten menerapkannya.


Lima menit dari berangkat, mobil itu sudah diantara deretan tronton dan bus luar kota. Mau minum dulu, ngantri ngisi BBM bersubsidi.

Tiga puluh lima menit, plus enam puluh detik, waktu hidup habis di situ. Beuty menahan gelisah, takut terburu malam.

Tiba-tiba Beuty ingat pembicaraannya yang terputus. Pretty pasti menunggu.


Bumi Puspita Asri, Senin 28/11/2022 23:27:57

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *