Rusia dan AS di mata Indonesia
Ichwanuddin Idrus.
Sahabat Suara Ilmu, apakanar-mu ?
Ku-do’a-kan, kalian selalu sehat dan dimudahkan-Nya , mencari rejeki yang halal.
Aamiin Yaa Allah, aamiin, …
Sahabat Suara Ilmu, …
Berdasarkan sejarah, Rusia adalah sahabat sejati Indonesia. Sejak kemerdekaan Indonesia, Uni Soviet telah banyak membantu Indonesia, terutama dalam urusan pertahanan dan melatih personel militer Indonesia.
Syarat pemberian bantuan yang diminta Soviet pun sangat ringan.
Tidak mengikat secara politis dan tidak ada embargo suku cadang peralatan perang yang telah dibeli Indonesia. Yang penting hutang dibayar, meskipun dalam tenggat waktu yang cukup lama.
Uni Soviet memang sahabat baik Indonesia.
Berkat bantuan Uni Soviet, TNI menjadi angkatan bersenjata terkuat ketiga di Asia Selatan/Timur, setelah RRC dan India pada periode 1961-1964.
Ketika itu Indonesia mempunyai 104 kapal perang berbagai jenis dan 12 buah kapal selam.
Kapal perang paling besar adalah kapal jelajah kelas Sverdelovsk dengan bobot 17.640 ton. Sebagai pembanding, bobot rata-rata kapal-kapal perang Indonesia sekarang adalah 1700 ton.
Kapal jelajah ini dapat mengangkut 1300 kelasi dan dilengkapi dengan 12 meriam raksasa. Kapal ini dinamai Presiden Sukarno RI (sekarang KRI) Irian.
Tugas kapal “RI Irian” adalah menenggelamkan kapal induk Belanda Karel Dorman, yang berkeliaran di perairan Irian, di sekitar Samudra Pasifik.
Sayang sekali sampai akhir Operasi Trikora, kapal “RI Irian” tidak pernah bertemu dengan kapal “Karel Dorman”.
Pesawat-pesawat tempur Indonesia juga merupakan pesawat paling canggih ketika itu.
Di saat
AS dan Nato masih mengandalkan pesawat-pesawat tempur berbaling-baling (terutama P-51 Mustang dan Gannet),
AURI sudah mengoperasikan pesawat tempur supersonik Mig-21 dan pembom strategis Tu-16 bermesin ganda. Pesawat yang berkecepatan kira-kira 1 Mach.
Sama seperti RI Irian, Tu-16 juga ditugaskan untuk menenggelamkan kapal induk Belanda Karel Dorman.
Indonesia sudah mengoperasikan Mig 21 pada tahun 1961 sedangkan Mesir baru memanfaatkan keunggulan Mig-21 di dalam Perang Arab-Israel 1973.
AS dan Nato sangat mencemaskan kehadiran Mig-21 dan TU-16 di dalam angkatan udara Indonesia.
Diam-diam AS melakukan terbang pengintaian di wilayah Indonesia untuk mengetahui jumlah Tu-16 Indonesia dan tempat penyimpanannya.
Radar Indonesia mendeteksi keberadaan pesawat U2 AS di wilayah udara Jawa namun sengaja membiarkan armada TU-16 berjajar di tempat terbuka di bandara Maospati (sekarang Iswahyudi) Madiun .
Tujuanya untuk pamer, unjuk kekuatan, kepada AS dan Nato (dalam hal ini Belanda) bahwa Indonesia betul-betul mempunyai Tu-16.
Dan, dalam jumlah besar, sehingga jangan menunda penyerahan Irian Barat kepada RI.
Selain itu, juga berguna menakut-nakuti Malaysia
Dalam Operasi Dwikora di tahun 1964, pilot-pilot Tu-16 Indonesia menebarkan pamplet di Sarawak, Sabah dan Kinibalu, di pagi-pagi buta tanpa terdeteksi oleh radar pertahanan Malaysia.
Di Alice Springs, jantung benua Australia, Tu-16 menjatuhkan parasut dan logistik tanpa terdeteksi sedikit pun oleh radar AU Australia.
Tindakan ini dimaksudkan Indonesia, sebagai peringatan bagi Australia bahwa pengebom supersonik Indonesia dapat menembus jantung Australia tanpa dapat dideteksi oleh Australia.
Dengan demikian, Australia diminta untuk mengurungkan niatnya membantu Malaysia di dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia (Dwikora).
Kemesraan Indonesia-Uni Soviet mulai meredup pada akhir tahun 1964.
Penyebabnya adalah pernyataan Presiden Sukarno ketika ditanya wartawan tentang cara Indonesia melunasi utang ke Uni Soviet yang begitu besar.
Sukarno dengan santainya mengatakan, “Kita kemplang saja utang ke Uni Soviet.”
Setelah menjauh dari Uni Soviet, pada tahun 1965 Sukarno mengalihkan orientasi politiknya ke RRC untuk mencari bantuan dan perlindungan dalam mewujudkan revolusi Indonesia.
Peralatan perang buatan Uni Soviet teronggok sebagai besi tua ketika Suharto berkuasa.
Keinginan beliau untuk membeli pesawat F 86 Sabre eks Perang Korea dan pesawat angkut T33 dari AS pada tahun 1967 memaksa AS mengenakan sebuah syarat, yakni seluruh mesin perang warisan Uni Soviet harus dibesituakan jika ingin memiliki F 86 Sabre dan T 33 Birds.
Sahabat Suara Ilmu yang baik hati dan tidak sombong, ….
Silahkan dilanjutkan bacanya, …. atau mau minum dulu ? (Red).
Salah satu di antara 12 kapal selam yang pernah dimiliki Indonesia (RI Pasopati) diabadikan sebagai kenang-kenangan di musium angkatan laut di Surabaya.
Begitulah cerita kedekatan Indonesia dengan Uni Soviet di masa lalu.
Uni Soviet tidak pernah mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia, termasuk dalam Peristiwa Madiun di tahun 1948. Republik Indonesia Soviet adalah gagasan dan ilusi Muso semata, bukan kehendak pemerintah Uni Soviet.
Setelah Peranh Dunia ke II, wilayah garapan Uni Soviet adalah Eropa Timur, bukan Asia Tenggara.
Sedangkan yang menggarap Asia Tenggara, adalah Inggris,
Asia Timur serta Pasifik adalah lahan garapan AS.
(Lahan garapan, dalam ruang kelas kuliah jurusan Hubungan Internasional, disebut “Backyard Policy”. Red.)
Sebelum era Suharto, AS lebih banyak berseberangan dengan Indonesia. Lewat CIA, AS membantu pemberontakan-pemberontakan di Indonesia seperti PRRI, Permesta, DI TII, RMS dan membela Belanda dalam konflik Irian Barat.
Sahabat Suara Ilmu, kini kalian makin paham. Politik Internasional itu, sangat mempengaruhi perkembangan/ gejolak politik di suatu negara (Red.).
Ada negara yang tak segan menggelontorkan dana, untuk mendirikan pemerintahan yang kelak dapat mengakomodir kepentingan-nya (Red.).
Untuk pemahaman lebih lanjut, Sahabat Suara Ilmu, bisa mempelajari “alasan Putin – Rusia, mendukung pemenangan Donald Trump, dalam pemilihan presiden di AS (Red.).
Silahkan googling.
