Kalimat-Kalimat Ayah
Soetiyastoko
Sungguh, aku tak ingin berdebat
Kalimat-kalimat ayah
kuresapi
Mata-nya mencari keraguan di wajah-ku
di gerak tubuh-ku
di cara duduk-ku
Telapak tangannya yang kurus-keriput genggam erat tangan-ku
Dia lanjutkan kalimat-nya,
“Segala sesuatu selain Allah itu hanya permainan bekaka, dan itu bersifat penipuan. Mengecoh koridor hidup yang ditetapkan-Nya”
Genggam tangan-nya terasa dikendurkan
Ku-usap keringat di dahi-nya
“Abang, anak-ku, ada orang yang tak percaya, … Ada orang yang saleh, yaitu yang mengembara,
menuju ridho-Nya,
kepada Allah
Mereka telah mendapat petunjuk, dengan cahaya-penerang kalbu”
“Mereka ber-ibadah
ikuti yang diperintahkan-Nya”
“Semua itu, merupakan amalan
untuk bergegas,
taqarrub-mendekat
kepada
Allah, …”
“Sedang orang-orang
yang telah sampai,
di haribaan Allah, …”
“Mereka
ditarik
oleh nur-cahaya petunjuk, yang
langsung
dari Allah, …”
“Bukan sebagai hasil ibadah, tetapi
semata-mata karunia
dan rahmat Allah”.
“Maka orang-orang saleh
yang
sedang berusaha menuju
ke alam nur, …
Terus berjuang dan memohon agar bisa tetap lurus menggapai ridho Allah”
“Sedangkan
yang telah sampai
di haribaan-Nya, …”
“Mereka berkecimpung
di dalam telaga cahaya petunjuk, …”
Kupandangi wajah ayah, kepalanya disangga dua bantal, di atas satu guling
Beliau berhenti bicara, matanya menyapu sudut-sudut kamar. Dihelanya empat kali nafas panjang, dihembuskan pelan-pelan. Seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, …
Lalu mulai berkata lagi,
“Sebab orang yang keyakinan-nya telah sampai
di haribaan Allah itu, …
Mereka
telah bersih
dari segala sesuatu
selain
Allah”.
Aku jadi ingat kalimat ayah, saat kami bicara di teras depan, usai beliau memotong rumput dan menambahkan pupuk kandang di pot-pot bunga, kesayangan ibu-ku.
Kukira itu sebagian cara ayah, untuk menyenangkan hati ibu.
Kalimat-nya seperti ini,
“Hakikat kedalaman tauhid seseorang,
adalah,
bila
telah
tidak melihat
pengaruh-pengaruh sesuatu, …
Selain Allah, …”
“Dan inilah yang disebut
tingkatan
haqqul-yaqin, …”
Beliau diam, tangannya dibersihkan di bawah kucuran air kran di sudut taman. Wajah terlihat ceria dan bersemangat.
Ayah sahabat-ku pernah berkata, kesenangan orangtua itu “ditanggap-disimak saat bicara, kurang suka disanggah” .
Dengarkan saja dengan penuh perhatian. Itu salah satu cara menghibur-nya. Kesenangan yang tidak bisa kau belikan di toko apapun.
Meski yang diucapkannya, sudah kau dengar berkali-kali.
Begitulah orangtua, …
Aku tertegun sejenak. Suara bicara ayah terdengar. Namun aku tak menyimak, apa yang beliau ucapkan tadi.
Mulai lagi konsentrasi, mengikuti yang disampaikan ayah-ku, …
“Janganlah
menganggap ada sesuatu
selain Allah
yang dapat kau
harap,
atau
kau takutkan, …”
Posisi bantal ayah-ku sudah berubah. Beliau terlihat tidak nyaman, kucoba susun ulang yang menopang punggung dan kepala-nya.
Selimut kukembalikan keadaannya. Bagian kaki yang tersingkap, kututupkan. Telapak kaki pucat dan dingin itu, kini tak terlihat.
Diraihnya lagi tanganku, seolah minta kuperhatikan. Beliau mulai berkata-kata lagi.
“Ingat-lah Abang-anak-ku,
hanya Dia
yang
sungguh-sungguh berkuasa, …”
Ayah menghirup udara pelan-pelan. Matanya menyelidik mata-ku.
Sejenak kemudian kucium pipinya, ….
“Bang, minta-lah hanya pada Allah, jangan pada yang lain. Termasuk tidak berharap pada pemilik perusahaan yang kau pimpin……
Karena, semua harapan
yang ditujukan
kepada sesuatu
selain Allah
adalah
syirik,
baik yang nampak jelas
ataupun
yang samar-samar, …”
Kalimat-kalimat ayah, selalu terdengar formal.
“Abang, ingat-ingat-lah, berharap, kepada yang besar ataupun yang kecil selain Allah,
dalam pengertian syirik
hampir tiada berbeda.”
Ayah tersenyum usai mengucapkan kalimat itu. Lalu ber-tahlil dan matanya pun terkatup selamanya.
Tak ada saputangan ataupun tisu, yang bisa dibasahi airmata-ku.
***
BSD, Selasa 31 Mei 2022, diantara waktu mengasuh cucu terkecil-ku. Kedua orangtua-nya bekerja, memberi kuliah di kampus. Nanti malam dia dijemput.
Terkirim dari tablet Samsung.

