CerpenSUSASTRA

Rapat Triwulan Pertama

Oleh : Soetiyastoko

Seperti biasanya, ruang rapat  itu selalu membuat tubuh menggigil. Kursi-kursi melingkari meja yang terbungkus beludru hijau, ditumpangi lembaran kaca tebal. Menyentuhnya, tak beda dengan menyentuh balok es batu, siku dan jari bisa linu seketika.

Hari ini, hampir bisa dipastikan akan lebih dingin dari rapat-rapat evaluasi penjualan di bulan yang lain.
Sebelum masuk ke ruang parkir bawah tanah, mobil diguyur hujan sepanjang jalan. Mulai dari keluar garasi, di halaman rumah, dari langit uap air dengan cepat mengembun. Lalu berjatuhan ke kap mobil,  sebesar-besar jempol kaki bayi. Deras.

Zulfikar, seperti biasa, berangkat ke kantor, sebelum tetangganya berangkat ke masjid. Untuk solat subuh. Selalu begitu, setiap hari; kecuali sabtu dan minggu. Itu pun, bila dia ada di rumah. Tidak rekreasi ke daerah-daerah dingin seputar Bogor selatan, Puncak atau Sukabumi.

Ini hari senin, hasil penjualan hingga hari sabtu yang lalu sudah terdatakan dalam laporan. Lengkap, mulai laporan per-individu anggota tim penjualan, dari berbagai area penjualan di seluruh Indonesia. Hingga bertingkat secara  jabatan,  sampai posisi yang tertinggi.

Penjualan per jenis barang, per-area-individu, juga telah siap untuk ditayangkan di depan forum komisaris dan direksi.

Era komputer dan digitalisasi, telah memungkinkan pengolahan data secara cepat, bahkan perubahan detik-demi detik, dapat segera dilihat dalam waktu yang bersamaan. Orang bilang “real time counting”. Selain angka, juga tersaji dalam grafik yang amat mudah dimengerti. Tidak perlu bersusah-payah, membuat laporan perkembangan penjualan, secara manual. Seperti di tahun 90an.

Semua, tinggal klik, data yang dikendaki telah terjaji dan langsung bisa ditampilkan dilayar.

Sudah terstruktur standar penampilan data untuk presentasi, yang memudahkan penilaian, sehingga dapat dengan cepat dilakukan upaya perbaikan, sebelum kurun periode penjualan berikutnya, berakhir.

Selesai mengunci pintu mobil dengan sekali klik di remote control, bergegas ke mushola basement. Jam di gawainya tertulis 05:42, dilaksanakannya perintah Sang Pencipta. Hampir selalu begitu, solat subuh di ujung waktu. Bertentangan dengan hasrat hatinya, maunya tidak begitu, ingin bisa dilakukan diawal waktu.
Namun jalanan Jakarta yang amat jarang lancar, sehingga itulah pilihan keputusan, yang relatif paling aman.

Orang-orang yang tinggal di pinggiran Jakarta, sadar betul, jika terlambat berangkat dari rumah, beberapa menit saja, kehadirannya tercetak dengan warna merah. Mesin absensi itu tidak bisa disogok, walau masih bisa diakali.

Suatu ketika ada karyawan tergolong pimpinan, yang ketahuan curang, dia membayar pesuruh kantor untuk mencolokan kartu absen, sekaligus menempelkan foto jempolnya ke mesin fingerprint.

Orangnya sedang dinas keluar kota seminggu, tapi presensinya tercatat hadir. Naas, menejer itu diberhentikan seketika, sepulang dari luar kota.

Peristiwa itu diumumkan melalui surat elektronik ke seluruh bagian, lengkap dengan foto dan uraian pelanggarannya.
Tujuannya, jelas, agar tidak ada yang ikut-ikutan melanggar disiplin perusahaan.

Pihak HRD, sengaja memasang dua jenis mesin absensi, sebagai cadangan sekaligus memudahkan jajaran pimpinan yang sesekali ingin tahu kerajinan anak buahnya, dengan melihat kartu checkclock.

Seusai membaca firmanNya, Zulfikar beranjak keruang kerjanya. Jam tujuh masih kurang beberapa menit, bekal makanan yang disiapkan istrinya, dibuka. Sendok-demi sendok dinikmatinya. Sementara matanya mengamati data penjualan dari setiap area yang menjadi tanggung jawabnya. Dari 32 area, ada 4 yang pencapaiannya amat buruk. Masalahnya sudah 6 sampai 8 bulan terjadi. Beberapa anggota tim-nya dibajak perusahaan pesaing. Hingga hari ini belum dapat pengganti. Calon-calon yang dia ajukan ditolak HRD, karena permintaan gaji dan fasilitas, katanya terlalu tinggi. Sementara itu anggota tim yang dia usulkan untuk dinaikan posisinya-dipromosikan, ditolak atasan. Alasannya karena masih relatif baru, emosi belum stabil, agak gagap, gerakannya lambat-tidak gesit. Ada juga yang ditolak dengan disebut bahwa bodyleader-nya tidak ada.

Zulfikar, kewalahan turun langsung ke area-area itu, terutama yang penjualan trendnya terus menurun. Di sisi lain area-area lainnya, jadi berkurang dari pengawasannya.

Ruang rapat itu, bisa jadi sedingin rumah-rumah salju penduduk kutub, kaum Eskimo. Namun hawa panas kemarahan pimpinan rapat, sudah menyentuh kepala, bahkan otak Zulfikar. Di deretan kanan ada 5 orang anggota keluarga pemilik perusahaan, sekaligus sebagai dewan komisaris. Menatap tajam ke arah Zulfikar.

“Saya ingatkan berkali-kali, segera atasi, segera atasi ! Anda bisa atau tidak, sih !
Sekarang dengarkan baik-baik omongan saya ini ….
Anak-anak dan istri kamu, sudah biasa hidup enak. Tercukupi, karena gaji-mu besar ….. Mereka sedang butuh-butuhnya biaya sekolah dan kuliah. Dan, …. kamu sudah tidak bisa disebut muda….”

Matanya lurus ke wajah Zulfikar, nafasnya tersengal lalu diam sejenak, …

“Kamu sudah tua…. saya tidak ragu, dua bulan kedepan memecat kamu !
Kamu langsung jadi miskin !, Pasti, kamu, sulit, untuk dapat jabatan dan gaji seperti sekarang. Artinya, kamu akan segera menyiksa keluargamu, bila tidak ada trend perbaikan penjualan yang signifikan !”

Kalimat-kalimat itu masih terjaga, karena ini forum bersama para komisaris. Amat berbeda bila didepan forum khusus jajaran petinggi pemasaran, sumpah serapah, isi kamar mandi dan penghuni kebun binatang, ikut disebut. Demi melukiskan kemarahan dan kekecewaan.

Mata-mata dikepala dewan komisaris membelalak, baru berkedip, ketika Direktur profesional bayaran perusahaan, menyelesaikan ancamannya. Dia sedang bekerja.

Zulfikar, terus berdzikir, berusaha untuk tetap tenang dan menahan diri, tidak membantah. Meski dalam hati berkata, bahwa hal ini mestinya tidak perlu berlarut-larut, seandainya usulan pengangkatan atau penerimaan karyawan baru, disetujui sang Direktur.

Dia sadar, ruang geraknya yang tak leluasa. Di forum ini tidak mungkin menjelaskan duduk permasalahan dengan lengkapnya. Hanya akan menambah masalah.

Zulfikar, mencoba menikmati makan siang yang terasa sama sekali tidak enak dimulutnya. Padahal dipesan di restoran langganan kantor.
Biasanya, dulu, di momen seperti ini, makan prasmanan bersama seusai rapat, para anggota komisaris mendekati mengajak berbincang ramah-tamah, ketika hasil penjualannya selalu melewati target. Bahkan ada yang menanyakan kabar keluarga dan sekolah-kuliahnya. Sekali waktu ada yang menitipkan lima batang coklat besar, yang sering muncul iklannya di televisi.

Zulfikar, teringat pesan ayahnya. “Kasih ibu, sepanjang jalan, tanpa ujung dan tiada putusnya. Kasih perusahaan, sebatas prestasi penjualan atau penugasan”. Dia jawab dengan bercanda : “Kasih karyawan pada perusahaan, sepanjang imbalan dan fasilitas ….”

Tak beda dengan hari-hari kemarin, jam pulang kerja jalanan macet. Zulfikar memilih berangkat pulang, seusai solat isa dan rawatib.

Sesampai di rumah jam 22:30, dipeluknya satu-satu anak-anak dan istrinya, seraya dibisikan kalimat : “Tolong, terus doakan ayah ….” ***

Terkirim dari tablet Samsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *