Peluang Dapatkan Uang di Atas UMR
Soetiyastoko
Lowongan kerja yang relatif lebih sedikit dibanding penganggur-pencari kerja, disinyalir jadi salah satu penyebab rendahnya upah minimum kota, kabupaten & provinsi. Ada juga yang beranggapan hal itu akibat rata-rata rendahnya produktivitas tenaga kerja . Dari sisi pengusaha disebut bahwa provitabilitas perusahaan yang minim, sehingga ada yang merasa berat dan tidak mampu, membayar buruh sesuai ketentuan UM kota, kabupaten dan provinsi.
Dalam interview penerimaan karyawan atau buruh, pihak HRD memberitahukan bahwa upah yang mampu dibayarkan perusahaan adalah “sekian” dan itu di bawah UMR.
Dilanjutkan dengan kalimat “… jika bersedia, silahkan berkas perjanjian kerja ini di tandatangani …” Pencari kerja hampir tidak punya “posisi tawar-menawar” . Hanya, silahkan diterima bila setuju, atau, tinggalkan bila keberatan. Masih banyak pelamar lainnya yang bersedia.
Ini situasi pahit kondisi kita hari ini. Namun situasi bisa berbeda dengan pencari kerja dengan predikat “lulusan terbaik” atau minimal 5 besar dari sekolah atau kampus tertentu. Mereka itu biasanya dilamar oleh perusahaan-perusahaan terbaik di bidang bisnisnya. Mereka mau membayar lebih dari UMR untuk kandidat-kandidat yang dinilai berpotensi dapat berkontribusi besar, terhadap perusahaan.
Tulisan ini tidak bermaksud membahas tentang UMR atau pun lowongan kerja. Juga bukan tentang cara menyiasati, agar dapat diterima kerja. Tetapi tentang peluang mendapatkan pendapatan di atas UMR, tanpa harus capek melamar kerja kesana kemari.
Baiklah, kita semua bisa mendapatkan informasi berbagai variasi besaran UMR di Indonesia (lihat info dalam kotak). Pastinya tidak ada yang mencapai angka 5 juta rupiah. Dengan 8 jam kerja perhari, dalam 5 hari kerja perminggu. Kurang lebih 25 hari kerja perbulan.
Kita tahu, gaji atau upah itu, masih harus dipotong biaya transpor (+/- Rp 20.000) dan makan siang (+/- Rp 15.000) perhari. Berarti dalam satu bulan/ 25 hari kerja +/- Rp 875.000,-
Jika saja upah atau pendapatan perbulan Rp 5.000.000,- ; maka yang bersih, yang bisa dibelanjakan untuk rumah tangga, adalah Rp 4.125.000,- . Itu dengan asumsi sudah dipotong pajak.
Sekarang coba kita lihat dari sudut yang berbeda, tentang upah atau pendapatan yang besarnya Rp 5.000.000 untuk 25 hari kerja yang per harinya 8 jam kerja.
Dalam sudut pandang ini, hari kerjanya, kita kurangi 5 hari. Menjadi 20 hari kerja saja. Artinya, setiap hari harus mendapat Rp 250.000,- Yaitu jumlah upah per-bulan dibagi jumlah hari kerja.
Selanjutnya, kita bayangkan, bahwa Rp 250.000,- itu adalah hasil keuntungan bersih “menjual sesuatu” per-hari.
Misalnya, menjual 1 sepeda motor atau upah menservis sebuah kendaraan atau lainnya. Itu bisa terjadi. Bahkan sangat mungkin untuk dicapai.
Berikut, fakta lainnya yang penulis temukan, dari penuturan seorang penjual mie ayam dan penjual sekoteng + makanan kecil. Mereka berkeliling jajakan dagangannya.
Mie ayam, semangkok dihargai Rp 10.000,- dengan untung Rp 4.500,- .
setiap hari dia bertarget, harus bisa menjual 65 mangkok. Berarti jumlah untung, Rp 4.500,- × 65 = Rp 295.000,-
Sekoteng, semangkok dihargai Rp 8.000,- dengan untung Rp 5.500,- .
setiap hari di bertarget harus bisa menjual 50 mangkok. Atau jumlah untung, Rp 5.500,- × 50 = Rp 275.000,-
Penjual mie ayam perbulan mendapatkan Rp 295.000,- × 20 hari = Rp 5.900.000,-
Sedangkan penjual sekoteng perbulan mendapatkan Rp 275.000 × 20 hari = Rp 5.500.000,-
Produk yang dijual bisa apa saja. Bisa tahu, bakso, baju, sepatu, kerupuk, snack box, cuci pakaian atau sepatu. Juga bisa berupa bengkel, fotocopy dan jilid buku Mudah. Apa saja bisa.
Di atas adalah cara penetapan rencana (target) usahanya. Tentu ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan dan dijalankan, agar rencana tersebut layak dikerjakan dan peluang suksesnya lebih besar.
Pendapatan yang lebih besar dibanding UMR. Benar, memang capek kerjanya. Tetapi pekerjaan apa yang tidak menyebabkan capek ? Apalagi dengan libur 10 hari per-bulan.
Tunggu, serial berikutnya.

