Uncategorized

SOETIYASTOKO : Demi Sukses Materi Pendidikan Ditempuh

“Di jaman sekompetitif ini, kok ada orang tua yang membekali anaknya hanya fokus ke agama saja ? Bagaimana kelak anaknya mendapatkan nafkah yang cukup ? Bukankah banyak syariat yang mensyaratkan dana, untuk melaksanakannya ?”

Pertanyaan di atas dari Seorang ilmuwan luar biasa cerdas, lulusan perguruan tinggi tua dan ternama di Indonesia. Dia ucapkan dalam perbincangan dengan para sahabatnya, ilmuwan sukses itu menyatakan keheranannya. Sekaligus suatu keprihatinan.

Sebagian besar orangtua, dalam memilih sekolah untuk anaknya, didasarkan pada upaya “membentuk daya meraih” keunggulan materi. Earning power.

Adapun upaya “membangun daya spiritual dan sosial” , dianggap cukup dari pendidikan informal.

Konstata ataupun landasan berpikir seperti di atas, tanpa disadari bahwa telah melahirkan generasi yang koruptif.

Mereka menganggap jalan pintas mengumpulkan materi, adalah wajar dan layak ditempuh.

Keriuhan pemberitaan seorang anak pejabat pajak yang menyiksa anak tokoh organisasi masa, ditenggarai adalah bagian dari nafkah yang dipertanyakan kehalalannya.

Keriuhan itu berlanjut pada pemecatan ayahnda dari pemuda, sang pelaku penyiksaan.
Tulisan ini tidak dimaksudkan mengupas peristiwa yang mengakibatkan korbannya koma.

Sekedar disampaikan sebagai kasus yang diyakini akibat rendahnya tingkat kemampuan bersosial dan spiritual. Hingga terjadilah peristiwa itu.

Kekhawatiran “kalah” dalam persaingan mendapatkan akses terhadap sumber-sumber ekonomi (baca: kebutuhan duniawi), telah mengendurkan pendidikan spiritual dan sosial.

Dalam “bahasa” agama penulis, kondisi di atas adalah peng-abai-an pada pembinaan “hablum minnanash & hablum minnallah”.
Hubungan antar manusia dan hubungannya dengan Sang Pencipta alam semesta beserta isinya.

Ketimpangan muatan pendidikan yang telah berlangsung bertahun-tahun, harus diakui sebagai penyebab munculnya wajah mental bangsa yang menyedihkan.

Senang jalan pintas, enggan mengikuti proses, nepotisme & koruptif. Hedon serta eksibios, suka pamer harta kekayaan dan memburu kenikmatan.
Meyakini segala sesuatu bisa ditukar dengan uang.
Minim empati pada sesama yang secara ekonomi dan sosial terpinggirkan.

Kondisi di atas memunculkan keprihatinan terhadap mentalitas dan moral bangsa.
Berujung pada pernyataan politik “perlu dilakukan revolusi mental”.

Agama, tidak bisa dipungkiri, adalah pintu pembuka kecerdasan sosial dan spiritual. Harus dipelajari secara tuntas, tidak boleh sepotong-sepotong. Agar diperoleh pemahaman menyeluruh dan tuntas.
Dengan demikian tidak bisa diselewengkan dengan dalih tertentu dan salah kaprah.

Para pemimpin organisasi bisnis, meyakini bahwa kualitas moralitas dan mentalitas erat kaitannya dengan integritas individu. Termasuk berdampak kuat pada tingginya tingkat produktivitas.

Kita butuh berkaca diri, saat data-data produktivitas mayoritas tenaga kerja Indonesia dinilai rendah oleh investor global. Konon hal itulah salah satu hal yang menyebabkan Vietnam disebut lebih menarik untuk berinvestasi.

Kembali pada bahasan di tingkat keluarga inti, apa cara-cara yang harus dilakukan, agar setiap anak dicukupkan bekal “daya juang pendukung sukses spiritual, sosial & materi”. Berintegritas baik.

Sukses & selamat di dunia dan kelak di akhirat. Sekaligus mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Aamiin Yaa Allah.

——-‘

Pesona Ciputih, Senin 13/03/2023 02:27:26

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *