Lain-lainMotivasiPENDIDIKANPUSPA RAGAM

Ichwanuddin Idrus : KEBIASAAN SERING MENOLONG SESAMA MANUSIA, BERBUNGA ILMU PENGETAHUAN

Sahabat Suara Ilmu, kalian bersekolah, berkuliah, tentu karena mendambakan bisa memiliki ilmu pengetahuan yang luas.

Kalian amat paham, ilmu-ilmu itu amat berguna bagi bekal kehidupan.

Sahabat Suara Ilmu yang budiman, …

Pengetahuan manusia tentang waktu sangat terbatas. Peristiwa di masa lalu yang ia ketahui hanyalah peristiwa yang pernah ia alami.

Sedangkan peristiwa di masa depan, tidak diketahuinya sama sekali.

Akan tetapi, berbeda dengan di zaman Nabi Musa a.s, saat itu ada seorang laki-laki yang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di masa lalu dan di masa depan.

Pengetahuan luas-nya, diperoleh, hanya dengan bekal kesalehan dan sifat dirinya yang selalu ingin menolong orang lain.

Atas kebiasaannya selalu ingin menolong orang lain, maka Tuhan Semesta Alam memberinya pengetahuan tentang masa lalu dan masa depan.
Termasuk diberi umur yang relatif panjang dan mobilitas yang sangat tinggi. Jauh melampaui mobilitas manusia pada umumnya.

Pada suatu saat misalnya, ia berada di pantai Laut Tengah, maka beberapa menit kemudian ia telah berada di pantai Laut Hindia. Untuk menolong orang yang sedang dizalimi atau yang hampir tenggelam di sana.

Sosok saleh ini sangat misterius. Ia dimunculkan Allah di atas pentas sejarah, untuk “mengcounter” ketidaktahuan Nabi Musa a.s. tentang, adanya orang lain yang lebih berilmu daripada dirinya.

Musa ditanya oleh salah seorang umatnya (dari Bani Isra’il) tentang hal itu, di saat Musa baru saja menyudahi dakwahnya.

Dakwah yang menyejukkan dan mengagumkan, di Palestina. Setelah selamat dari kejaran Fir’aun Mesir,

“Wahai Musa, siapakah orang yang paling banyak ilmunya saat ini ?”

Musa pun menjawab,

“Itu aku !. Tidak ada lagi yang lain.”

Atas kata-katanya itu, Allah menegur Musa a.s. melalui wahyu:

“Sesungguhnya Aku memiliki seorang hamba yang berada di titik pertemuan antara dua laut. Dia adalah hambaku, yang lebih berilmu daripada dirimu.

Temuilah dia dengan membawa seekor ikan besar dan tempatkanlah ikan itu di tempat penyimpanan. Di sanalah ikan besar itu akan menghilang,, di situlah hamba-Ku itu berada.”

Sosok saleh yang dimaksudkan Allah, adalah Nabi Khidir a.s. yang diceritakan secara terbatas di dalam al Qur’an. Kesalehan, ucapan dan tingkah laku sosok ini dijadikan acuan oleh para sufi penerap ilmu tasawuf.

Kata “Khidir” yang berarti hijau dianggap sebagai perlambang kebijksanaaan dan kerendahan hati yang selalu bersemi, hingga kelak, akhir hayat alam semesta.

Kerendahan hati Nabi Khidir a.s. tercermin oleh ucapan monumental beliau, ketika menanggapi keinginan Nabi Musa yang menggebu-gebu. Yaitu untuk memperoleh ilmu dari beliau.

Berikut ucapannya,

“Sesungguhnya aku memperoleh sebagian kecil ilmu, dari Allah yang tidak diberikan kepadamu, dan engkau pun memperoleh sebagian kecil ilmu dari Allah yang tidak diberikan kepadaku.”

Padahal, Allah mengatakan bahwa ilmu Nabi Khidir lebih tinggi dibanding ilmu Nabi Musa. Akan tetapi, meskipun ilmu-nya, tak sebanyak ilmu nabi Khidir, derajat kenabian Musa lebih tinggi, daripada derajat kenabian Khidir.
Karena Musa adalah rasul yang diperintahkan menyampaikan syariat kepada bangsa Isra’il.

Sedangkan Khidir tidak diperintahkan menyampaikan syariat, tetapi diperintahkan menolong dan berdakwah di lingkungan terbatas, yakni di wilayah
laut dan pantai.

Wallaahu ‘a’lam bisshoowab.

Bukti lain kerendahan hati Nabi Khidir adalah ucapan beliau kepada Musa ketika melihat burung laut yang bertengger di dinding perahu yang mereka tumpangi.
Burung itu meminum setetes air laut.

“Ilmu yang kita miliki hanyalah setetes air laut yang diminum burung itu, jika dibandingkan dengan luasnya ilmu Tuhan semesta alam.”

Khidir juga mengajarkan Musa untuk bersabar menghadapi segala sesuatu, dan, tidak mudah menyalahkan sikap orang lain.

Ketidak sabaran dan mudah menyalahkan sikap orang lain inilah yang menyebabkan Nabi Musa gagal memperoleh ilmu dari Nabi Khidir a.s.

Kegagalan ini sebenarnya telah diketahui oleh Nabi Khidir dan telah disampaikan kepada Nabi Musa .Ketika Musa berjanji untuk bersabar dengan sesabar-sabarnya, demi mendapatkan ilmu dari Nabi Khidir,

“Engkau pasti tidak akan sabar”, kata Nabi Khidir.

“Tidak mungkin engkau akan sabar, karena engkau belum memiliki pengetahuan untuk itu”.

Peristiwa-peristiwa yang
untuk menguji kesabaran Nabi Musa ketika sedang mencoba memperoleh ilmu dari Nabi Khidir adalah:

1) Saat dilubanginya oleh Khidir, dinding perahu milik nelayan yang telah mengantarkan mereka dengan susah payah,

2) Saat dibunuhnya oleh Khidir, anak kecil yang ia temui di jalan tanpa alasan apa pun, dan

3) Khidir tidak meminta upah sedikit pun dari pemilik rumah di sebuah kota setelah Khidir menegakkan rumahnya yang hampir rubuh, meskipun ketika itu Khidir, Musa dan Yusya bin Nun sangat memerlukan uang untuk makan.

Di balik ketiga peristiwa inilah terlihat luasnya pengetahuan Nabi Khidir tentang masa lalu, masa depan dan tentu saja masa sekarang (saat itu).

Nabi Khidir membunuh anak kecil yang sedang bermain dengan kawan-kawannya, karena ia tahu bahwa anak itu nanti (di masa depan) akan memaksa kedua orang tuanya yang beriman menjadi orang tidak beriman.
Anak yang dibunuh itu, akan segera diganti Allah dengan anak yang lebih menyenangkan . Sehingga kesedihan kedua orang tuanya tidak berlangsung lama.

Khidir menegakkan rumah yang hampir rubuh, karena ia tahu bahwa di dalam tanah di bawah rumah itu tersimpan harta warisan berupa emas yang ditinggalkan oleh orang tuanya, (di masa lalu) untuk kedua anaknya yang masih kecil.

Jika rumah itu tidak ditegakkannya, Khidir khawatir kedua anak yatim tersebut setelah dewasa nanti, tidak mengetahui tempat harta warisan orang tua mereka disimpan.

Melubangi perahu agar tenggelam di air dangkal. Hal itu dimaksudkan Khidir, untuk menyelamatkan perahu nelayan miskin dari pengambilan secara paksa oleh raja zalim, yang berkuasa di daerah itu (masa sekarang).

Dakwah Nabi Khidir dan keteduhan sosoknya ketika ia masih hidup, tidak hanya berkesan bagi nelayan, pelaut dan orang-orang pantai, tetapi juga bagi makhluk-makhluk laut seperti ikan.

Meloncatnya ikan yang dibawa Nabi Musa dan Yusya bin Nun ke laut dengan cara yang aneh. Terjadi ketika Musa sampai di tempat Nabi Khidir berada, adalah tanda, bahwa ikan tersebut ingin mendengar dakwah Nabi Khidir, dalam keadaan bebas.

Agar Musa dan Yusya bin Nun tidak kehilangan jejak, Allah memerintahkan air laut berputar-putar di tempat sehingga ikan tersebut tidak dapat keluar ke laut lepas.

Bukti lain tentang kecintaan makhluk laut, terutama ikan, kepada Nabi Khidir a.s, adalah, seringnya kejadian lumba-lumba, bahkan hiu menyelamatkan orang-orang yang tenggelam di laut. Yaitu dengan membawanya hingga sampai ke pantai.

Anggapan demikian setidak-tidaknya dikenal dengan baik di dalam dunia para sufi.

Wassalaam.

Catatan :
Referensi dari berbagai sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *