BudayaDewasa MudaPARENTINGPENDIDIKANPidanaPOLEKSOSBUDPolitikSosial

Regenerasi Kemaksiatan : Kecelakaan Atau Sengaja ?

Soetiyastoko

Kita akrab dengan kata “operasi pekat”, upaya menanggulangi “penyakit” masyarakat. Dalam hal ini bukan penyakit yang menyerang tubuh, tetapi prilaku dan moralitas. Perbuatan maksiat.

Seperti konsumsi narkoba, minuman ber-alkohol, pencurian – jambret – todong, tawuran, sex diluar nikah – pelacuran, hiburan bermuatan maksiat, perjudian, kebut-kebutan, ngemis, dan segala bentuk variannya. Gangguan keamanan dan kebersihan lingkungan.

Korupsi, penyakit masyarakat yang tidak termasuk target penggerebekan operasi pekat.
Mengingat dampak korupsi amat dahsyat dan pelaku-nya kebanyakan orang-orang hebat; pejabat, politisi, aparat dan pengusaha.

Maka masalah ini oleh pemerintah dilihat sebagai masalah kitis dan darurat. Diperlukan penanganan tersendiri dan oleh orang-orang yang kredibel serta dapat dipercaya.

Didirikanlah lembaga khusus: Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK. Diharap bisa perkasa menangani korupsi.

Hal itu tidak termasuk fokus bahasan ditulisan ini.

Operasi penanganan pekat, dari tahun ketahun dilakukan aparat keamanan – penegak hukum di akar rumput.

Sebuah upaya serius untuk menekan angka kejadiannya.
Dengan penindakan, agar timbul efek jera, tidak mengulangi perbuatan yang sama.

Upaya lain, adalah pencegahan yang lebih mendasar, dilakukan oleh lembaga-lembaga lain. Seperti sekolah, lembaga agama, lingkungan. Terutama di lingkungan keluarga inti.

Seberapa efektif upaya penindakan dan upaya pencegahan yang selama ini telah dilakukan ?

Itu sebuah pertanyaan yang mungkin sebagian orang tidak peduli. Namun bagi sebagian yang lain dahi-nya berkerut. Ini suatu keprihatinan yang menyedihkan.

Konon ada orang-orang yang merasa mendapat sensasi hebat, merasa jagoan. Saat melanggar aturan atau berbuat maksiat.

Mulai dari hal-hal kecil, misalnya menerobos lampu merah, menyusul dari sisi kiri, ngebut di sempadan jalan tol, mengacung-acungkan pistol. Mengkonsumsi narkoba dan alkohol dlsb.

Ini adalah, sebagian tantangan yang harus dijawab, untuk meningkatkan dan memperbaiki moralitas dan mentalitas bangsa.

Ada seloroh, “menangani penyakit masyarakat; tidak cukup seperti memotong rumput. Ada tumbuhan liar yang harus dicabut”.

Fakta yang ada, penyakit masyarakat itu mengalami proses regenerasi. Menular.

Penjudi, pemabuk, pencoleng, pelacur yang ada menghilang satu-satu. Diikuti bermunculan-nya wajah-wajah baru. Regenerasi pelaku pekat, tumbuh pesat dimana-mana. Tanpa sengaja telah “ditanam” oleh lingkungan.

Kenyataan di atas memperkuat dugaan masyarakat, bahwa dibalik semua itu ditenggarai karena adanya backing bin pelindung. Mereka konon adalah oknum-oknum aparat yang seharusnya mencegah.

Tentu saja perlindungan seperti itu tidak gratis. Ditenggarai ada jalur-jalur siluman untuk menyalurkan biaya pengamanan.

Para “menejer” aktivitas “pekat” dan dijadikan “ATM”, tentu karena keuntungannya berjumlah menggiurkan. Masih bersisa lumayan, walau harus setor kesana-kesini.

Mestinya ada pola-polanya. Ada faktor predisposisi-nya. Sehingga kegiatan pekat itu tetap berlanjut.

Itu yang harus jadi perhatian bersama, agar dapat dilakukan pencegahan yang efektif dan ekonomis .

Kita tahu, operasi-operasi pekat itu melibatkan banyak tenaga, tentu saja biaya, selain memunculkan ketegangan.

Alangkah baiknya bila alokasi tenaga dan biaya operasi pekat, sebagian bisa dialihkan kekegiatan lain yang lebih produktif. Jika penindakan itu, benar-benar dilakukan dengan hati dan kesungguhan.

Mereka yang seharusnya berperan jadi bagian solusi, ternyata ada juga yang malah jadi bagian masalah.

Jika dulu hal yang seperti itu sekedar jadi bahan pemberitaan di media. Kini telah diberdayakan, bertransformasi jadi slot hiburan, yang bermanfaat membawa iklan.

Apakah yang seperti itu, dapat kita golongkan sebagai kontribusi positif dari “pekat?”

Hanya anda, pembaca yang budiman, yang bisa menjawab.
Jika anda bukan pelaku pekat, anda hebat !


BSD, Serpong, senin 27 Juni 2022 , berlangit awan kelabu, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *