Pilihan Sekolah Untuk Anak: Sekolah Pilihan ?
Serial Bina Keluarga Bahagia

Soetiyastoko
Seorang Ibu, terkaget-kaget. Sedianya sedang mencari Sekolah Taman Kanak-Kanak untuk putra sulungnya. Didatangilah sekolah yang direkomendasikan koleganya.
Sekolah itu secara fisik memang baik, bisa jadi tergolong amat baik. Ruang kelas, lapangan dan taman serta fasilitasnya bak hotel berbintang.
Kesan luar biasa itu, bertambah-tambah ketika berbincang dengan beberapa guru dan petugas yang ditemui.
Ibu dan anak itu, ingin’-nya langsung menemui bagian pendaftaran, tapi malah diajak keliling sekolah oleh 2 orang yang mengaku guru di sana. Sambil menjelaskan banyak benefit untuk siswa.
Jadilah semacam peninjauan ber-pemandu wisata. “Window showing” yang dirancang dan dipersiapkan dengan baik. Menyenangkan, mestinya semua sekolah, kualitasnya seperti itu.
Saat bertemu bagian regristrasi, keramah-tamahan, keanggunan dan wibawa pendidik tersaji. Layaknya petugas front office hotel bintang lima.
Dia sama sekali tak menyebut uang pangkal dan iuran. Informasi itu diberikan dalam amplop. Sang ibu itu dipersilahkan mempelajarinya di rumah.
“Pendaftaran lebih mudah secara online, Bu , …” itu pungkas penjelasannya.
Pilihan ideal tentang sekolah, biasanya mencakup beberapa kriteria. Setiap keluarga bisa saja lebih menekankan pada kriteria tertentu.
Misalnya, sekolah mahal, seringkali dijadikan kriteria dasar yang pertama. Hal ini sejalan dengan pendapat umum, bahwa sekolah mahal menyediakan segalanya.
Fasilitas lengkap, gedung yang terawat, ruangan kelas ber AC, guru-guru pilihan yang memiliki kemampuan mengajar dan mendidik, di atas rata-rata. Banyak pilihan aktivitas ekstra kurikuler yang diselenggarakan dan dievaluasi dengan baik.
Seperti aneka makanan yang dihidangkan di meja restoran masakan khas suatu daerah.
Termasuk teman-teman murid yang dianggap semua baik, datang dari kalangan sosio-ekonomi yang kuat. Baca: kelas atas dan banyak uang. Di atas segalanya, sekolah jenis ini juga mendongkrak gengsi atau prestis keluarga.
Setiap orang tua sah-sah saja memilih sekolah bagi anaknya. Sekolah yang terbaik yang diharapkan, kelak dapat mengantarkan sang anak ke kehidupan yang terbaik.
Zonasi Sekolah
Saat ini, pemerintah menerapkan sistem zonasi dalam penerimaan murid baru di sekolah yang diselenggarakannya. Ini sebuah kemajuan.
Dasar utama penerimaan, adalah jarak terdekat antara lokasi sekolah dari rumah calon murid. Bukan nilai pada ijazah maupun raport.
Ketentuan baru ini, ditanggapi secara beragam oleh berbagai kalangan. Ada yang mendukung ada yang kurang sepakat, bahkan menolak.
Seperti biasanya terjadi, setiap kebijakan tidak akan bisa menyenangkan semua orang.
Namun, hal positif yang amat terasa adalah, jarak tempuh dan waktu tempuh ke sekolah relatif dekat dan singkat. Bahkan lebih banyak cukup ditempuh dengan jalan kaki.
Di sisi lain, penerimaan murid berdasarkan zonasi, perlahan tapi pasti, akan menghilangkan sebutan sekolah negeri pilihan atau favorit.
Tidak ada lagi upaya berbondong-bondong berebut masuk suatu sekolah. Hingga manipulasi data nilai raport dan ijazah, kasak-kusuk mencari pintu belakang. Nyogok atau titipan orang kuat dan cara-cara lain, demi menyiasati aturan.
Dimasa itu, ada sekolah-sekolah negeri yang oleh masyarakat di sekitarnya diberi label favorit, pilihan, sekolah bagus, sekolah impian dlsb.
Sekolah bersiasat.
Siasat, membagi persentase jumlah siswa yang diterima. Yaitu antara murid yang berdasarkan kriteria resmi dan mereka yang tidak memenuhi kriteria. Tetapi orang tuanya, memiliki kemampuan membayar lebih.
Baik membayar secara resmi ataupun lewat pintu belakang. Sekolah sekaligus menyediakan kursi bagi anak-anak orang-orang kuat. Murid-murid titipan. Kelompok ini digadang-gadang jadi sumber donatur kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler.
Sekolah seperti di atas, juga menyediakan kursi untuk mereka yang memiliki ketrampilan khusus yang menonjol di berbagai bidang, di luar “kepintaran akademis”. Baik itu kehebatan di bidang olah raga, beladiri, kesenian dlsb.
Murid-murid berketrampilan khusus ini, diproyeksikan untuk meng-angkat nama sekolah dengan memenangkan pertandingan-pertandingan antar sekolah.
Sungguh sebuah strategi cerdas yang diterapkan oleh pimpinan sekolah.
Kini, dengan diterapkannya sistem penerimaan murid secara zonasi, hal seperti diatas mulai syurut. Walau tidak benar benar hilang.
Masih ada saja upaya mengakali sistem itu. Mereka masih berpikir, bahwa sekolah hebat atau favorit diantara sekolah yang diselenggarakan pemerintah itu masih ada.
Kesetaraan dan biaya
Ada pertanyaan-pertanyaan terkait sebutan sekolah hebat atau pun favorit, yaitu, kira-kira apa kriterianya ?
Ada yang menyebut bahwa sekolah seperti itu, prestasi murid-muridnya hebat. Ada saja yang memenangkan lomba ini dan itu. Ada yang menonjol dibidang seni, olahraga. Ada yang menyebut lulusannya banyak diterima disekolah favorit tingkat berikutnya atau perguruan tinggi negri.
Ada juga yang menyebut bahwa disekolah seperti itu banyak anak pejabat, anak orang kaya dan kalangan atas lainnya.
Maka tidak heran, disekolah seperti itu ada biaya-biaya lain yang relatif lebih besar dibanding sekolah negri non favorit.
Singkatnya, jadilah sekolah itu sekolah favorit yang dipandang hebat dan bergengsi.
Sekolah swasta
Bagaimana pandangan orang tua murid terhadap sekolah swasta.
Ada sekolah swasta yang di pandang “waah”, hebat dalam segalanya, fasilitas maupun biayanya.
Ada sebagian sekolah swasta yang, maaf, dipandang rendah, dengan kondisi serba terbatas dan berbiaya relatif rendah.
Pada akhirnya, memilih sekolah tetap dimungkinkan, dengan segala caranya. Baik secara resmi sesuai aturan dan kriteria, maupun “konon” masih bisa ditembus dengan bisik-bisik dan titipan kekuasaan maupun uang.
Fakta yang ada dilapangan dilevel sekolah manapun, lulusannya ada jadi orang hebat atau pun gagal dan bermasalah.
Artinya, disekolahkan dimanapun, peranan orangtua dalam mendidik anak, tidak tergantikan.
Sekolah mahal, sekolah favorit tidak menjamin kesuksesan seorang anak.
Perlu dipikirkan ketika hendak memaksakan diri menyekolahkan anak disekolah yang berbiaya resmi mahal.
Mungkin anak akan berteman dengan anak-anak yang berlebih harta dan berlebih fasilitas pribadi. Tetapi perbedaan yang mencolok dihal ini, bisa jadi tekanan psikologis bagi anak, bila secara ekonomi jauh tidak setara.
Disisi lain bisa membuat orangtua yang relatif berkemampuan dana terbatas, juga akan kuwalahan dan tertekan oleh biaya-biaya ekstra.
Gara-gara menyekolahkan anak disekolah mahal, kebahagiaan keluarga tergadaikan. Dana yang terbatas akan tersedot kesana. Ingat anak akan minder bila tidak bisa mengikuti suatu kegiatan sekolah yang tidak murah.
Cara sehat dan menyenangkan, pilih saja sekolah yang biaya dan jaraknya dalam jangkauan.
Sistem zonasi, akan membuat kondisi lingkungan sekolah lebih heterogen dalam banyak hal. Suatu lingkungan yang lebih sehat untuk perkembangan psikis siswa.
Kita semua menyadari, bagian terpenting dari proses belajar, adalah hubungan baik antara orangtua dan anak. Seberapa besar dukungan dan perhatiannya terhadap proses belajar. Tidak bisa dengan hanya mengandalkan pihak sekolah.
Menyambung paragraf awal, amplop yang diletakannya beberapa jam di atas meja , dibuka usai makan malam. Sang Ibu muda bersama suami kaget dan kecewa, terbaca “uang pangkal Rp 45 juta, iuran bulanan dua setengah juta.
“Duuh ! Duit dari mana ?!”
BPA Pagedangan, 21 Agustus 2021
