Kelayakan Usaha, Tahu Kapan Harus Ganti Haluan
Serial Bimbingan Usaha & Kerja
Soetiyastoko
Seorang buruh pabrik garmen yang sehari-hari tugasnya memperbaiki berbagai jenis mesin jahit, terpaksa diberhentikan karena tempat kerjanya bangkrut.
Bingung harus kerja apa. Sekali dua kali ada tetangga yang minta tolong diperbaiki mesin jahit.
Berbekal ketrampilannya, dia mendatangi kios-kios penjahit menawarkan jasa perbaikan. Dari upayanya itu, bertambah dengan jual beli mesin jahit bekas.
Sebagian dari mesin itu diperbaiki dan dicat ulang, bagian-bagian krom yang terkikis dan pudar; dikrom ulang ketukang krom.
Usahanya itu tidak berkembang lebih jauh. Orang bilang begitu-begitu saja. Tidak tumbuh.
Suatu ketika, tetangganya setengah memaksa minta dibantu mengecilkan celana jin. Awalnya menolak, karena tidak punya ketrampilan jahit menjahit; walau ahli memperbaiki mesin jahit.
Dengan dipandu langkah demi langkah oleh yang punya celana, akhirnya celana itu tuntas divermak. Dia pun merasa senang bisa membantu.
Usai selesai satu celana, entah bagaimana berita menyebar, bahwa dia bisa melakukan vermak celana jeans. Berdatanganlah tetangga-tetangga yang lain. Ada yang minta ganti risleting, ganti kancing. Ada yang minta tas dijahit. Dia pun belajar memperbaiki sepatu, jacket kulit, koper, karena ada saja minta dilayani.
Luar biasa, hasil perbulannya sudah lebih besar dari gaji-nya saat kerja di pabrik. Bahkan tidak perlu keluar ongkos naik angkot. Cukup dikerjakan di rumah petak kontrakannya.
Jual beli dan servis mesin jahit, nyaris tak dikerjakannya lagi. Beberapa mesin jahit, mesin obras yang belum terjual, memenuhi rumah kontrakan itu.
Hal itu membuat ruang gerak dua anak dan istrinya semakin sempit. Dia berhitung-hitung kemungkinan untuk mengontrak tempat yang lebih lapang untuk keluarga sekaligus tempat usahanya.
Rencananya akan dia jejerkan beberapa mesin. Masing-masing disetel untuk jenis ketebalan kain atau bahan yang berbeda, agar setiap kali tidak harus menyetel ulang, mengganti jarum, mengganti benang, repot, bila hanya menggunakan satu mesin saja.
Kesiapan mesin-mesin akan mempercepat proses kerja, hemat waktu dan memampukan menerima order lebih banyak.
Jika hal itu bisa dicapai, menurut perhitungannya pendapatan bisa hingga dua sampai 4 kali upah kerja di pabrik. Bila tenaga dan kesehatannya mampu dengan beban kerja seperti itu. Alternatif lainnya dengan menambah tenaga kerja.
Jadilah dia pindah lokasi kontrakan yang lebih besar dan lokasinya masih dikampung, namun dilewati angkutan umum. Resikonya, harus membayar lebih mahal. Tiga kali lipat dibanding kontrakannya terdahulu.
Usahanya berkembang di tempat baru, omset atau pendapatan kotornya meningkat. Namun peningkatan itu, diikuti pengeluaran yang meningkat. Terutama untuk sewa kontrakan. Ditambah pengeluaran pungutan liar dari oknum-oknum, selain retribusi resmi.
Dalam perjalanan usaha jasanya yang begitu menyedot waktu dan menguras tenaga, dia didatangi petugas dari Google Maps, namanya dan lokasi usahanya pun tercantum di peta online. Secara gratis, tis.
Sejak itu order pekerjaan pun meningkat. Sesungguhnya dia jadi sangat kewalahan.
Inginnya, menambah tenaga pekerja untuk membantu. Namun bila hal itu dilakukan, dalam perhitungannya, pendapatan akan menurun. Akibat bertambahnya total upah seorang pegawai.
Akhirnya, setelah dihitung-hitung, dia lebih memilih menaikan setiap tarif upah jasanya 35 %; dibanding menambah pegawai.
Dasar pertimbangannya, langganan atau orang yang berulang menggunakan jasanya cukup banyak dibanding yang hanya sesekali. Hal ini dipelajarinya dari catatan order pelanggannya.
Setelah tarif dinaikkan, beberapa waktu, terdata jumlah order agak menurun. Namun omset meningkat sekitar 20 %.
Jenis order pun berubah persentase komposisinya. Bila semula mengecilkan ukuran celana jin yang terbanyak, kini reparasi celana jin jadi nomer 1 dan yang kedua jacket kulit.
Pertama, Keberanian mengubah usaha dari jasa perbaikan dan jual beli mesin jahit bekas, ke jasa wermak jeans, dalam kasus ini, terbukti meningkatkan pendapatan.
Kedua, Kemauan mempelajari hal baru, telah membuka pintu rejeki yang lebih besar. Benar semula dia ahli servis mesin jahit, lalu bertransformasi menjadi ahli servis/ vermak jean dll.
Ketiga, dari uraian kisah nyata di atas, terbukti bahwa usaha offline sangat terdukung oleh promosi online. Walau promosi-nya terbatas pada pencantuman lokasi, jenis dan nama usaha jasanya.
Dampaknya tentu akan lebih besar bila didukung iklan online yang terencana dengan baik.
Keempat, keputusan untuk memindahkan lokasi usaha harus dengan pertimbangan dan perhitungan yang tepat. Berdasarkan survey dan data penunjang yang baik. Jadi salah satu faktor tumbuhnya usaha secara maksimal, sesuai skala usaha dan pasar yang tersedia.
Kelima, di saat kebanjiran order sehingga kerepotan menanganinya. Ada dua pilihan tindakan; menambah tenaga atau menaikan tarif jasa.
Dia lebih memilih yang terakhir. Hasilnya omset meningkat walau diikuti jumlah order menurun. Keuntungan lainnya, dia tidak kelelahan.
Sahabat Suara Ilmu, adakah yang punya pengalaman lain dalam menumbuhkan omset ?
Silahkan disedekahkan lewat Suara Ilmu.
Bro, Bray, Boss, kami tunggu.
