Sopan Santun & Budaya Kekinian
Soetiyastoko
Budaya pergaulan petinggi kraton-kawula, adalah produk sosial-politik. Tujuannya melestarikan kekuasan dengan merenggangkan jarak antara penguasa dengan “rakyat jajahannya” yang dikondisikan agar patuh, manut, hormat dan tanpa merasa direndahkan. Termasuk dalam berbahasa.
Kalangan darah biru. Ningrat, berhak berbahasa kasar pada kaum rendahan. Sebaliknya, kaum jelata harus berbahasa ekstra halus kepada yang mengaku “wong duwur”.
Para ningrat. Lapisan bin strata sosial yang deklarasikan diri dan kelompoknya, sebagai kelompok “tinggi bin kalangan atas”.
Sangat kontras dengan budaya kekinian di Jakarta. “Siape elu, siape gue. Emangnye, gue pikirin ?”
Jika di pedesaan yang jauh dari kota dan juga jauh dari pesisir – pantai. Termasuk yang jauh dari pasar, umumnya berbeda tata-titi dan keguyubannya.
Jika di kota, ada seseorang warga yang relatif lebih tua, sedang jongkok membersihkan pinggiran jalan di depan rumah-nya ; anak-anak SLA yang lewat, yaa lewat saja. Tanpa mengucap “permisi”, “salam” atau jalan merunduk, sebagai isyarat hormat dan menyapa.
Amat berbeda bila hal yang sama terjadi jauh dari kota dan pesisir. Anak-anak SLA itu, pasti berucap “salam”, “permisi”, minimal memberikan isyarat “merunduk dan berjalan di sisi terjauh”. Bahkan di perkotaan, yang naik kendaraan, jika mau lewat, yaa lewat saja. Tanpa merasa perlu mengurangi kecepatan atau menyapa.
Gejala di atas jadi pertanyaan besar: “Itu-kah bagian dari kemajuan atau kemunduran budaya sopan-santun ketimuran?”
Pertanyaan lain-nya, mengapa bisa berbeda seperti itu ?
Penulis, tidak bisa memberikan penjelasan yang secara ilmiah dan akademis bisa dipertanggung-jawabkan.
Apakah yang penulis rasakan dan alami, hanya gejala di pulau Jawa saja, yang hingga kini keraton-keraton masih eksis. Wilayah, teritorial yang masih mengakui eksistensi para ningrat, keturunan para raja dan pangeran.
Sikap dan adab sopan santun yang hidup di pelosok pulau Jawa, khususnya yang relatif dekat dengan keraton, atau wilayah “perdikan”-nya. Terbawa ketika warga yang “menganut”, pindah ke kota besar.
Namun, lambat laun memudar, setelah cukup lama merantau ke kota besar. Mereka umumnya jadi lebih pragmatis dan logis, termasuk terpapar gaya sopan santun versi perkotaan. Sebuah pola prilaku kasar dan tidak bisa diterima, bila diukur dengan standar dan sudut pandang kraton-kraton.
Situasi di atas, bila dikaitkan dengan semangat dan upaya “revolusi mental” di atas keprihatinan terhadap kondisi moralitas, kejujuran, kepatuhan hukum. Apakah perannya ?
Para akademisi ilmu sosial, kiranya berkenan meneliti gejala ini, secara lebih mendalam dan akurat.
Para pembaca yang budiman, bagaimana pendapat anda, terhadap kondisi di atas ? Penting-kah adab sopan santun di standar-kan secara nasional ? Diajarkan di sekolah-sekolah dan kampus, dibiasakan di kantor-kantor.
Kini sudah terjadi, seorang mahasiswa yang datang terlambat ke kelas. Dia lewat begitu saja di depan dosen yang sedang mengajar, jaraknya kurang dari 1 meter dari hidung gurunya.
Tanpa berucap salam, permisi dan semacamnya. Anak muda yang itu berayahkan politisi terkenal sekaligus pengusaha sukses, lewat begitu saja.
Apakah ini indikasi tumbuhnya arogansi ningrat gaya baru ? Atau yang dulu pernah disebut sebagai “dekadensi moral ?”.
Budaya baru-kah ?
Kiranya, ini bagian superfisial dari mentalitas dan moralitas bangsa yang harus direvolusikan.
Semoga.
Serpong, 07/07/2022 11:01:32
