“Energi Itu Kekal”: Benar ‘Gak, Sih ?!
Ichwanuddin Idrus.
Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan.
Namun dapat diubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain.
Berdasarkan tiga besaran fisik alam semesta, yakni massa, ruang dan waktu, energi dikelompokkan menjadi sbb.
Pertama energi potensial (berhubungan dengan massa dan ketinggian/gravitasi).
Kedua, energi mekanik (berhubungan dengan ruang).
Ketiga, energi kinetik (berhubungan dengan waktu).
Berbuat baik sama dengan melepaskan energi positif, dan melakukan kejahatan identik dengan melepaskan energi negatif.
Energi yang telah dilepaskan tidak akan musnah dan akan kembali ke orang yang melepaskannya.
Yaitu kelak, pada hari ketika energi tidak diperlukan lagi di alam semesta.
Energi positif dikembalikan sebagai pahala, sedangkan energi negatif diserahkan sebagai dosa yang harus dipertanggungjawabkan.
Sebagai contoh, berdoa untuk keselamatan, kebahagiaan dan kedamaian orang lain, adalah pelepasan energi poditif.
Apalagi berdoa untuk kebaikan umat Muhammad, adalah salah satu wujud pelepasan energi positif.
Bukan hanya pahala yang diharapkan kaum muslimin di saat melantunan solawat-doa untuk Nabi, tetapi lebih dari itu, berharap mendapat syafaat Beliau di Padang Mahsyar nanti.
Tanpa syafaat Nabi saw, pahala seseorang mungkin belum cukup untuk mempertemukannya dengan Allah dalam keadaan di-ridai-Nya pada Hari Pembalasan.
Thowaf mengelilingi Baitullah-Kakbah, adalah ilustrasi sederhana tentang pertemuan manusia dengan Allah pada hari Pembalasan.
Jika thowaf dilambangkan sebagai pergerakan benda mengelilingi sebuah titik, maka seseorang akan tetap berada pada jalur di sekeliling pusat pencarian hakiki, di Padang Mahsyar (Allah)
Jika besarnya gaya sentrifugal yang cenderung melemparkan seseorang ke luar pusat lingkaran, tidak melebihi besarnya gaya sentripetal yang berusaha menarik seseorang ke pusat lingkaran.
Gaya sentripetal melambangkan pahala, yang mendekatkan manusia pada pencipta-Nya. Sedangkan gaya sentrifugal melambangkan dosa, yang (berusaha) menjauhkan manusia dari Allah,
Gaya “sentrifugal seolah-olah” mewakili “hukuman” akibat dosa manusia.
Mudah-mudahan syafaat Nabi Muhammad saw menjadi gaya sentripetal tambahan -yang- akan menarik manusia ke “titik pusat” lingkaran.
Titik yang melambangkan pusat penyembahan semua mahluk. Sekaligus pusat bergantungnya segala sesuatu, yakni Allah swt.
Tanpa syafaat Nabi saw seseorang mungkin akan terombang-ambing tanpa arah di Padang Mahsyar yang sangat luas dan tidak bertepi sehingga tidak dapat bertemu dengan Allah.
Di Padang Mahsyar kelak, dimensi ruang ketiga setelah panjang dan lebar, yakni tinggi, telah dicabut. Sehingga matahari terasa tepat berada di ubun-ubun manusia.
Sangat mengerikan kalau manusia sampai tersesat di tempat itu.
Kembali kepada hukum kekekalan energi -yang- menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Kekal.
Para bijak bestari berucaap “Setiap kebaikan itu akan dikembalikan, kepada pelakunya. Sebagaimana keburukan akan dikembalikan kepada pelakunya” (red.).
Oh yaa, Sahabat Suara Ilmu, kebaikan apa yang sudah kalian lakukan untuk orang lain, di hari ini ?
Kini kalian akan semakin ingat, setiap kebaikan kalian kepada pihak lain, sesungguhnya kebaikan untuk-mu sendiri.
Ingat energi itu kekal.
