Ichwanudin Idrus :SONIC BOOM PILOT-PILOT MIG 27 & 29, PECAHKAN GENDANG TELINGA PARA AWAK KAPAL INDUK AS
Hai ! Para pembaca SI & teman-teman seperjuangan saat-saat belajar di kota kembang, puluhan tahun yang lalu.
Sambil menunggu datangnya malam, kita bercerita sedikit tentang salah satu dentuman yang mungkin terjadi di angkasa pada waktu siang atau malam. Tetapi bukan dentuman yang disebabkan oleh gejala alam, melainkan oleh pesawat supersonik, yakni pesawat terbang yang melaju dengan kecepatan melebihi 1 Mach.
Satu Mach adalah kecepatan suara di udara yang besarnya kira-kira sama dengan 340 m/detik atau 1224 km/jam.
Kecepatan pesawat berbaling-baling tidak ada yang mencapai 1 Mach.
Dentuman ini disebut sonic boom. Suaranya sangat keras sampai-sampai dapat memecahkan kaca-kaca jendela rumah dan menulikan manusia. Karena alasan inilah pesawat-pesawat jet supersonik, misalnya pesawat-pesawat tempur modern, dilarang melintas pada ketinggian rendah di atas pemukiman penduduk.
Bandara untuk pesawat jenis ini memang boleh dibangun di dekat pemukiman dengan pertimbangan bahwa ketika pesawat lepas landas dan akan mendarat, kecepatannya lebih rendah daripada 1 Mach.
Dentuman tersebut terdengar tidak tepat di atas kepala kita tetapi pada jarak tertentu beberapa menit setelah pesawat terbang meninggalkan kita (rumah kita) pada posisi mendatar.
Besarnya jarak tersebut adalah H \/ [(Vp/Vu)2 – 1] satuan jarak dan waktu terdengarnya dentuman adalah
(H : Vp) \/ [(Vp/Vu)2 – 1] satuan waktu.
H adalah ketinggian terbang pesawat, Vp adalah kecepatan pesawat supersonik, Vu adalah kecepatan suara di udara (1 Mach), (Vp/Vu)2 adalah kuadrat (Vp/Vu). \/ adalah tanda akar.
Sebagai contoh, pesawat tempur modern RRC Chengdu J-10 2003 terbang mendatar pada ketinggian 8000m di atas rumah Mas Manto di Pondok Labu dengan kecepatan 2,2 Mach (2692,8 km per jam).
Ketika tepat berada di atas rumah Mas Manto, yang terdengar adalah suara pesawat yang menggemuruh tetapi tanpa dentuman. Dentuman baru terdengar 5,82 detik kemudian ketika Chengdu berada pada jarak 15,676 km dari rumah Mas Manto.
Dentuman sonic boom ini sering dipakai pilot-pilot Mig 27 dan 29 Sovyet pada masa perang dingin untuk memekakkan bahkan memecahkan gendang telinga para awak kapal induk AS yang berada di geladak ketika Mig-mig tersebut bertemu dengan kapal induk AS di Lautan Hindia di selatan Jawa. AS tentu saja marah dengan ulah para pilot Sovyet tetapi tidak membalas karena ingin mencegah konflik yang lebih besar. Ulah seperti itu dikenal sebagai ‘chicken game’ atau ‘adu nyali.
Adu nyali ini, masih sering dilakukan pilot-pilot Sukhoi Russia saat ini ketika mereka memergoki atau mengusir pesawat-pesawat pengintai NATO atau pembom B52 AS di dekat batas wilayah udara Russia. Hanya, caranya berbeda.
Pilot-pilot Russia ini tidak lagi mempergunakan dentuman (sonic boom), tetapi menerbangkan Sukhoi sedekat mungkin dengan B52 atau pesawat pengintai NATO ( sampai jarak 10m) sehingga B52 hampir jatuh terhempas akibat terjadinya aliran udara turbulensi.
AS dan NATO biasanya langsung memprotes tingkah laku para pilot Russia ini dengan menuduh pilot-pilot Russia ini sangat tidak profesional dalam menerbangkan pesawat sehingga menyebabkan pesawat AS hampir mengalami kecelakaan.
Padahal perbuatan seperti itu memang disengaja oleh pilot-pilot Russia. Mereka ingin menjatuhkan pesawat AS dengan teknologi, bukan dengan peluru. Kalau dengan peluru, persoalan tentu akan menjadi rumit.
Wassalam, selamat beristirahat.
