Lain-lainPUSPA RAGAMSosial

Ichwanudin Idrus : ALASAN DITURUNKANNYA ISLAM DI ARAB SAUDI, BUKAN DI INDONESIA.

Sahabat Suara Ilmu, apakabar-mu ?

Semoga tetap segar bugar, ceria & sejahtera.

Aamiin Yaa Allah, …

Di pertengahan bulan Ramadhan ini, sudah banyak kajian dan ceramah yang menyajikan informasi, betapa banyaknya rahmat yang diturunkan-Nya di masa ini.

Sebagian dari kita diberi kesempatan merasa, bahwa rahmat yang begitu banyak itu, menyadarkan diri: betapa kecil dan tak berdayanya seorang manusia.

Selanjutnya, silahkan disimak tulisan Bang Iwan, kontributor Suara Ilmu, sbb.(Red.)

Kesadaran akan betapa kecil dan tidak berdayanya manusia di alam semesta adalah syarat dasar agar seseorang dapat mengakui kebesaran Tuhan.

Seseorang yang berada di hutan tropis tidak dapat merasakan kekecilan dirinya.

Di hutan lebat, di rumah atau di istana manusia merasa sebagai subjek, bukan objek. Dengan akal dan tenaganya ia dapat mencegah kemungkinan tersesat di hutan rimba dengan menebas semak-semak, sebagai jalan pergi dan pulang.
Menandai puncak-puncak gunung tertentu sebagai patokan, aliran sungai dan lain-lain.

Di gurun pasir, misalnya gurun al Rub al Khali (seperempat yang kosong) di perbatasan Arab Saudi dan Yaman, atau di luar kota Agades di Niger, Afrika Sub-Sahara yang dijuluki Gerbang Sahara, seseorang tidak lagi menjadi subjek, melainkan objek.

Jika tersesat di gurun pasir, ia tidak mampu lagi menyelamatkan dirinya sendiri tetapi harus ditolong oleh orang lain.

Dari Gerbang Sahara di pinggir kota Agades, seseorang dapat melihat betapa luasnya alam semesta dan betapa kecil serta lemahnya manusia, dibandingkan dengan alam semesta.

Kesadaran tentang “betapa kecil dan lemahnya manusia” di Alam Semesta, adalah syarat dasar untuk menjadi seorang penyampai wahyu Allah (nabi).

Itulah sebabnya islam diturunkan di Arab Saudi. Di negeri ini terdapat cakrawala yang sangat luas (padang pasir) untuk merenungkan betapa kecil dan lemahnya manusia di Alam Semesta.

Islam tidak diturunkan di negeri tropis seperti Indonesia karena di tengah hutan lebat yang terhalang dari cakrawala, seseorang tidak dapat melihat kekecilan dirinya di Alam Semesta yang demikian luas.

Nabi Muhammad saw mengatakan bahwa ia diutus Allah untuk memperbaiki akhlak manusia.

Akhlak orang Arab di awal masa kenabian Muhammad saw sangat buruk.

Mereka suka merampok rombongan kafilah yang membawa barang-barang dagangannya dari dan ke luar Arab Saudi. Membunuh bayi-bayi perempuan yang baru dilahirkan, menipu, memfitnah, berzina, meminum minuman keras, berjudi, mengadu domba manusia, memerangi kabilah-kabilah lain untuk mempertahankan supremasi kabilahnya, membangkang, menyembah berhala dan lain-lain.

Akhlak bangsa Arab (dalam hal ini penduduk Mekkah) yang buruk ini harus dibenahi oleh Nabi Muhammad saw. Inilah alasan kedua yang penyebab diturunkannya Nabi Muhammad (agama Islam) di Arab Saudi.

Ketika Islam diturunkan di Arab Saudi pada abad ketujuh, kerajaan-kerajaan yang terdapat di Indonesia antara lain adalah Kalingga, Galuh, Kutai Martadipura, Mataram Hindu, Kerajaan Melayu Dharmasraya, Sriwijaya, Kerajaan Sunda, dan Tarumanagara.

Penduduk kerajaan-kerajaan ini hidup rukun, tentram dan damai sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya, Hindu atau Buddha. Hidup dalam keadaan rukun, tentram dan damai adalah refleksi kemuliaan akhlak penduduk kerajaan-kerajaan tersebut pada abad ketujuh. Karena akhlak mereka sudah baik, Islam tidak perlu diturunkan di Indonesia.

Cuaca lingkungan yang ekstrim adalah sarana untuk menguji ketaatan dan meningkatkan ketakwaan para Nabi dan Rasul Allah.

Sebagian besar wilayah Arab Saudi terletak di atas garis balik utara (Trophic of Cancer, 23,50°C). Negara-negara yang berada di atas garis balik utara mempunyai empat musim, yakni musim semi, panas, gugur, dan musim dingin.

Suhu udara di Arab Saudi turun sampai minus beberapa derajat di bawah 0°C pada musim dingin dan naik hingga 55°C pada musim panas.

Pada musim dingin Nabi Muhammad saw tetap harus melaksanakan solat-solat malam di dua per-tiga malam (pukul 2 pagi ketika suhu udara berada pada titik terrendah).

Di musim panas (suhu udara 55°C), Nabi Muhammad juga diwajibkan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Beliau saw berhasil menunaikan kedua ibadah tersebut dengan sempurna.

Atas kepatuhannya terhadap perintah Allah, Allah menaikkan derajat beliau ke tingkat yang lebih tinggi.

Negeri yang mempunyai suhu yang ekstrim ini (Arab Saudi) dipilih Allah sebagai tempat menurunkan Islam karena lewat suhu yang ekstrim tersebut Allah ingin menguji ketaatan Nabi Muhammad saw terhadap perintah Allah dan mengangkat beliau ke tingkat ketakwaan yang lebih tinggi jika beliau dapat melaksanakannya.

Indonesia yang tidak mempunyai dua suhu ekstrim (yang seperti itu, dingin & panas, Red.) dalam setahun, tidak dipilih sebagai tempat menurunkan agama Islam, karena dengan suhu kira-kira 25°C pada malam hari, siapa pun dapat melaksanakan solat-solat malam dengan tenang, tidak perlu menggigil karena kedinginan.

Di dalam ajaran Islam, kaum muslimin/muslimat diwajibkan berwudu dengan air yang suci dan menyucikan sebelum solat.
Di negeri-negeri tropis, air tidak bermasalah karena tersedia dalam jumlah melimpah.

Di gurun pasir, air sangat sulit dicari. Akan tetapi, meskipun demikian, solat harus tetap dilaksanakan.

Sebagai solusi terhadap kelangkaan air, Islam memperkenalkanlah konsep ‘tayamum’, yaitu membersihkan badan sebelum solat atau ketika berhadas besar dengan mengusapkan debu halus yang bersih ke kedua tangan dan wajah.

Konsep tayamum ini berlaku universal; setiap muslim yang kekurangan atau tidak menemukan air untuk berwudu atau membersihkan diri dari hadas besar di mana pun ia berada (di bumi, di planet atau di luar angkasa) boleh bertayamum.

Seandainya Islam diturunkan di Indonesia, konsep tayamum mungkin tidak pernah dikenal karena di Indonesia air mudah dicari.

Inilah salah satu alasan mengapa Islam diturunkan di Arab Saudi yang penuh dengan gurun pasir.

Islam mempergunakan sistem kalender hijriah. Berdasarkan sistem kalender ini, waktu dihitung/ditentukan berdasarkan pergerakan bulan, bukan matahari seperti sistem kalender Masehi.

Waktu berdasarkan sistem kalender Hijriah, misalnya awal tahun baru Hijriah, awal puasa Ramadhan, Idil Fitri, Idil Adha dan lain-lain, ditentukan dengan melihat kehadiran bulan baru di cakrawala.

Di gurun pasir, bulan baru di cakrawala mudah dilihat dengan mata telanjang dan memang harus dilihat dengan mata telanjang karena pada abad ketujuh Masehi, alat-alat optik modern belum ditemukan.

Inilah salah satu alasan (lainnya, Red.) yang menyebabkan Islam diturunkan di Arab Saudi.

Islam tidak diturunkan di Indonesia karena jika Islam mengharuskan penggunaan sistem kalender Hijriah, kehadiran bulan baru sulit dideteksi karena sering terhalang kabut, mendung, hujan, awan dan lain-lain.

Ketika Islam diturunkan pada abad ketujuh Masehi, di Timur Tengah terdapat dua negara raksasa adi daya yang sangat kuat. Yang pertama dan tertua adalah Byzantium (Romawi Timur), dan yang kedua adalah Parsi (Persia) di Iran sekarang.

Kedua kerajaan tersebut sudah berusia ratusan tahun.

Islam yang nanti akan menaungi daulah Islamiah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad saw, harus diturunkan di dekat kedua negara adi daya ini agar dinamis sehingga cepat mapan, kuat dan disegani.

Pada kira-kira tahun 629 M, Rasulullah Muhammad saw
mengirimkan seorang utusan untuk memperkenalkan Islam kepada penguasa Basrah dan kaisar Heraclius sekaligus bersilaturahim dengan keduanya.

Di luar dugaan Rasulullah, utusan tersebut dipenggal kepalanya oleh Heraclius. Muncullah dinamika pertama bagi daulah Islamiah. Nabi Muhammad memerintahkan kaum muslimin berperang melawan pasukan adi daya Byzantium yang kala itu merupakan pasukan terbesar dan terkuat di Timur Tengah dan Afrika.

Perang tersebut bernama Perang Mut’ah karena terjadi di Mut’ah di wilayah Yordania sekarang.

Pasukan kaum muslimin yang hanya berjumlah 3.000 orang harus bertempur melawan 200.000 pasukan Byzantium yang dipimpin langsung oleh Kaisar Heraclius.

Atas perintah Nabi Muhammad saw, pasukan muslim dipimpin oleh Zaid bin Haritsah.

Jika Zaid gugur, pimpinan diserahkan kepada Ja’far bin Abi Tholib, dan jika Ja’far gugur, pertempuran dipimpin oleh Abdullah bin Rawahah.

Ketiga pemimpin pasukan ini gugur satu demi satu, sehingga komando diambil alih oleh Khalid bin Walid.

Pertempuran ini merupakan pertempuran paling heroik dan bersimbah darah bagi kaum muslimin di sepanjang sejarah Islam.

Atas izin Allah, pertempuran dimenangkan oleh kaum muslimin. Khalid kehilangan 12 anak buahnya dan menghabiskan sembilan pedang untuk memenangkan pertempuran tersebut.

Kemenangan atas pertempuran hebat ini merupakan show of force sekaligus peringatan kepada kabilah-kabilah Arab agar jangan meremehkan kekuatan Islam yang baru hadir di pentas sejarah.

Bahasa Arab adalah bahasa al Qur’an sekaligus bahasa persatuan kaum muslimin.

Bahasa ini dipilih karena tidak pernah berubah lagi di sepanjang zaman (sudah jenuh). Karena al Qur”an harus menggunakan bahasa yang tidak boleh berubah di berbagai zaman.

Arab Saudi yang menggunakan bahasa tersebut dipilih Allah sebagai tempat menurunkan agama Islam.

Di akhir tulisan ini saya tambahkan bahwa kesadaran (diri, Red.) akan kecil dan tidak berdayanya manusia di Alam Semesta, akhirnya melahirkan seruan “Allaahu Akbar” yang sering kita dengar dan ucapkan. Tuhan Maha Besar !

Wallaahu ‘alam bishshoowaab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *