POLEKSOSBUDPolitikSosial

Soetiyastoko : NGECAP-NYA SEBAGIAN POLITISI, KEPADA WONG CILIK BIN RAKYAT PAPA

Sahabat Suara Ilmu, apakabar-mu ?

Semoga tetap sehat dan penuh semangat beraktivitas.

Pernahkah kalian dengar slogan “Kecap Nomer Satu” Dulu itu slogan umum untuk produk “kecap”. Produsen kecap kini tak lagi menyebut produk-nya nomer satu.

Sudah berbeda dengan situasi 40 atau 50 tahun yang lalu, setiap kecap saat itu mengklaim nomer satu.

Apakah itu berarti tidak ada kecap nomer dua hingga nomer seribu-satu, misalnya ?

Lalu apakah sempat ada kontes rasa antar kecap, sehingga ada yang dinobatkan sebagai nomer satu ?

Di masa itu, olok-olok kepada juru debat atau politikus yang berargumentasi dan berjanji di masa itu, ada sebutan “jago ngecap”.

Dua kata ini mungkin diambil dari slogan produk kecap saat itu, yang seragam mengklaim bahwa kecapnya nomer satu.

“Jago ngecap” identik dengan pandai berkata-kata, pandai berjanji sekaligus pintar menjungkir-balikan kalimat. Memuji diri dan kelompoknya sendiri, seraya merendahkan pihak lain yang dipersepsi sebagai pesaing.

Dasar kelas kecap, bertutur ngawur, “asal njeplak / asal mulut menganga” . Jadilah ngecap !

Kasihan “Sang Kecap”, bertahun-tahun dijadikan bagian kalimat tak sedap.

Kini, di media televisi, radio dan sarana komunikasi virtual lainnya, produk “sejenis ngecap” , menjadi sajian yang bisa disantap kapan saja.
Masalah “ber-gizi” atau seledar “sampah” yang menyeruput memori otak. Tak ada urusan, yang penting bisa jadi “lokomotif” penghela rangkaian iklan.

Semakin banyak audience acara ngecap-nya., semakin hebat rating-nya. Pendapatan dari iklan-pun menggunung.

Sementara itu penyelenggaraannya tidak ribet, bahkan sering kali lebih ekonomis dibanding jenis konten yang lain.

Ini, bisnis, bung !

Kembali ke “kecap” yang sesungguhnya. Dia dilahirkan untuk menemani nasi, agar memunculkan cita-rasa nikmat saat dimulut.

Dikalangan kaum yang bersyukur, meski hidup dalam segala keterbatasan, “kecap” benar-benar nomer satu. Dikala tak ada lauk-pauk kawan nasi, menari diantara gigi dan lidah.

Kecap “per dosis pemakaian” yang hanya sekitar satu sendok makan, pasti lebih murah dari pada sambal atau saus tomat asli.

Jadi sebutan “kecap nomer satu” adalah bila disandingkan dengan sambal saos atau pun kerupuk. Mampu menumbuhkan lahap, dan ekonomis.

Beruntung-lah kalian yang setiap kali makan ada teman nasi. Walaupun itu tempe, tahu dan sambal. Itu sudah amat mewah, bagi kaum papa.

Kita tak sedang bicara-kan kaum yang bosan makan ini-itu di restoran atau di rumah-rumah mewah. Bingung mau makan apa dan mau makan siapa (?).

Para petinggi partai, belum tentu mampu membayangkan deretan hari-hari siang malam-nya kaum papa, asal perut bisa terganjal nasi. Syukur bila ada kecap.

Bagi kaum papa yang hidup dengan pendapatan di bawah upah minimum kota atau regional UMK-UMR: kecap, apapun merk-nya adalah nomer satu.

Mereka yang paling “empuk” dikecapi saat kampanye pemilu.

Berita terakhir syarat tinggi badan untuk jadi prajurit diturunkan dari 165 Cm jadi 160 Cm. Sebuah keputusan realistis dan pragmatis, agar tetap ada yang bisa direkrut.

Keputusan di atas mengkonfirmasi bahwa stunting bin kuntet makin marak.

Kampanye pencegahan stunting, tak mengubah apa-apa, bila pendapatan mayoritas warga negara masih belum mampu mencukupi kelayakan nutrisi bergizi.

Sama seperti mimpi warga perkampungan kumuh Jakarta, saat dijanjikan bisa memiliki rumah dengan DP 0 % yang ternyata akhirnya bersyarat pendapatan minimal 7 juta.

Janji politik itu “ngecap nomer satu”.

Benar sedikit, ngibul sedikit, membodohi rakyat kecil; yang nota bene jumlah suaranya terbanyak, dianggap biasa. Cara-cara seperti itu amat memalukan.

Jangan-lah, mentang-mentang sebagian Rakyat mudah lupa dan sebagian lainnya mudah memaafkan. Kalian sebagian politisi tak sungkan mendzolimi Rakyat.

Jika kalian mengaku ber-Pancasila, mengaku ber-Ketuhanan dan pemeluk taat sebuah agama. Mestinya kalian takut pada Tuhan.

Tapi, kami Rakyat jelata, tak mengurusi keberanian kalian untuk ingkar pada Tuhan.

Sudah terlalu lama, dalam kampanye ada janji-janji politik yang tak terukur dan tak mungkin bisa dilakukan. Tetapi tetap saja cara-cara mendulang suara seperti itu dilakukan.

Dan nyata-nya sukses meraup dukungan di bilik suara.

Lain kali kata Abang OJEK, wahai politisi, berilah keterangan yang jujur “KETENTUAN DAN SYARAT BERLAKU” di setiap janji kampanye-mu.

☆☆☆☆☆

Di posting hari minggu 15 Januari 2023, sebagai penanda Grand Launching Website Suara Ilmu, suarailmu.site


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *