BudayaPENDIDIKANSosial

Ditengah Pandemi: Berharap Terbentuknya Standar Efektif Pembelajaran Online

Soetiyastoko

Pandemi telah memaksa semua sendi kehidupan untuk beradaptasi.

Terangkum dalam dua kata “normal baru”, dengan kata lain, yang dulu biasa dilakukan, diganti dan disesuaikan agar inti aktivitasnya bisa tetap berlangsung.

Sekaligus mengurangi-menekan resiko penularan Covid 19 dengan berbagai varian-nya.

Adaptasi tersebut, tidak semua berjalan mulus. Perubahan cepat, revolusioner itu menyisakan kegagapan dan keteteran disana-sini.

Dalam dunia pembelajaran, tidak terkecuali. Dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tidak hanya, bagaimana proses baru harus dijalankan, namun juga berkonsekuensi ekonomis.

Baik dari sisi pengeluaran dan pemasukan yang terkait pembelajaran, semua terdampak. Dengan beragam skala-nya.

Pendidikan Anak Usia Dini, PAUD dan Taman Kanak-Kanak, sebagian besar diselenggarakan oleh swasta. Bingung, akan diselenggarakan seperti apa, jika harus dilakukan secara on line.

Pilihannya, jumlah hari dan jam pertemuan dikurangi. Lalu bagaimana dengan iuran atau pembayaran biaya pendidikannya, harus dibayar dalam jumlah yang sama, atau, dikurangi ?

Lalu bagaimana dengan gaji guru dan biaya operasional lainnya. Mungkinkah dikurangi atau tetap sebesar jumlah sebelum pandemi ?

Serba dilematis, bagi lembaga pembelajaran swasta.

Demikian pula ditingkat SD, SLTP dan SLA. Muncul biaya pulsa, bila dilakukan melalui jaringan/online. Termasuk biaya pengadaan gawai dan ketersediaan sambungan internet. Disisi peserta belajar maupun guru dan sekolah.

Diluar masalah efektivitas penyajian dan penyampaian materi ajar. Kapasitas guru untuk ber-online ria, yang belum distandarisasi.

Apakah dapat efektif, cara belajar tatap muka, yang, begitu saja dialihkan lewat kamera dan layar monitor. Andai pun itu mengabaikan gangguan sinyal dan buruknya kualitas suara dan gambar.

Sedangkan keterlibatan emosional, atensi-psikis, disiplin untuk fokus. Tentu amat berbeda, dibanding pembelajaran langsung, tatap muka.

Disamping gaya belajar anak-anak murid di rumah. Ini terkait dengan ada atau tidaknya iklim belajar yang baik di rumah. Juga tentang seberapa besar dorongan dan keterlibatan orangtua dalam proses pembelajaran online.

Semua masih dalam suasana kedaruratan. Alasan umum yang membenarkan adalah: “Dari pada tidak terselenggara. Tidak ada rotan, akar pun jadi”

Tidak sebentar pandemi melanda, mestinya banyak ragam hal yang sudah dilalui, dalam suasana “normal yang baru”.

Sudah saatnya, segera dievaluasi, hasil proses pembelajaran dalam suasana kedaruratan pandemi. Disusul dengan standarisasi pola pembelajaran yang paling efektif.

Memperhatikan banyaknya variabel yang ada, serta kesenjangan diantara variabel yang sama. Terkait dengan adanya strata-tingkat sosial ekonomi dan budaya yang berbeda.

Kita semua tidak ingin, generasi yang menjadi penyintas pandemi ini, mengidap “cacat pabrik” dalam proses pembelajarannya.

Inisiatif pencarian dan pembentukan pola pembelajaran baru di “normal yang baru”, hendaknya berlangsung terbuka. Melibatkan banyak pihak, kita harus segera keluar dari suasana “kegagapan pola belajar dan proses pembelajaran”.

Lalu bagaimana dengan tingkat pendidikan tinggi-universitas ?

Setiap universitas, hendaknya tidak perlu gengsi dan malu-malu. Belajar dan mengadopsi pola dan proses belajar jarak jauh, dengan modul-modul sudah teruji, yang selama ini dilakukan oleh Universitas Terbuka.

Lembaga pendidikan tinggi negeri-nasional, yang sudah puluhan tahun menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh dan terbukti dengan tingkat kualitas alumnusnya.

Dengan berpikir positif dan bertindak kreatif, pandemi Covid 19, telah mengajarkan dan memaksa setiap pihak untuk “loncat” lebih tinggi.


BSD, 7 Maret 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *