Pendidikan | Belajar Dari Pengalaman
Soetiyastoko
Judul di atas, adalah rangkaian kata yang amat sering kita dengar. Ada yang dirangkaikan dengan kalimat yang bernada nasehat, marah atau pun penyesalan.
Sebenarnya pengalaman seperti apa yang dapat dijadikan bahan untuk belajar. Apakah kisah-kisah sukses saja, atau termasuk tragedi dan kegagalan ?
Para bijak-cendikia berkata, bahwa semua jenis pengalaman selalu mengandung makna yang bermanfaat untuk dipelajari. Selama kita berpikir positif dalam, mencerna, memahami dan mempelajarinya.
Dari sebuah peristiwa kecelakaan di jalan, kita bisa mempelajari, hal-hal apa saja yang mendahului, sehingga terjadi peristiwa yang tidak diinginkan itu.
Apakah itu tentang kecepatan tinggi, melanggar rambu lalu lintas, faktor kesehatan dan kehandalan fisik pengemudi atau kurangnya kewaspadaan dan kehati-hatian.
Bahkan mungkin juga, faktor cuaca yang membuat jalan licin dan pandangan terhalang.
Bisa juga karena kondisi kendaraan yang kurang terawat dan tak layak jalan.
Banyak faktor yang menjadi predisposisi terjadinya peristiwa kecelakaan.
Jika kita dapat mengetahui dan memahami, artinya, kita sudah belajar darinya.
Pada gilirannya kita akan menghilangkan atau paling tidak meminimalisir, faktor-faktor tersebut. Agar terhindar dari peristiwa yang sama.
Membaca pengalaman seorang pengusaha, pemimpin politik atau siapapun yang sukses, tentu banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Sepanjang diri kita berusaha sungguh-sungguh memahami, mempelajari dan menerapkannya dalam kehidupan kita sendiri.
Menguasai, memahami berawal dari mengetahui dan mempraktekan. Kita tidak harus belajar dari pengalaman yang dialami sendiri. Itu akan sangat memboroskan waktu dan banyak yang jadi sia-sia belaka.
Apakah kita menunggu mengalami kecelakaan, kegagalan, kerugian atau tragedi lainnya yang dialami sendiri, untuk belajar ?
Jawabnya, tentu, tidak. Lalu dari mana pengalaman-pengalaman itu kita pelajari ?
Banyak sumber yang dapat kita jangkau, dari tulisan-tulisan dan tayangan di banyak bentuk. Dunia maya, film, video, buku fisik maupun maya – elektronik.
Kita tinggal klik atau raih dari sekitar, bisa kita temukan pengalaman-pengalaman untuk dipelajari.
Kuncinya, ada pada diri sendiri, yaitu, adakah keinginan kuat untuk selalu berubah ke kondisi yang lebih baik.
Adakah “kebutuhan mencapai sesuatu”. Orang ‘sono’ menyebutnya punya “need of achievement”
Tanpa keinginan yang kuat, belajar dari pengalaman orang lain, akan menjadi beban yang tak disukai dan menyiksa.
Seringkali, orang baru mau belajar ketika sudah terdesak. Ini suatu sikap yang keliru. Nyatanya, banyak yang seperti itu terjadi.
Akibat minimnya rasa ingin tahu untuk maju dan keadaan puas atau happy dengan kondisi yang sudah dicapai saat ini.
Adakalanya, orang merasa bahwa yang dihadapi adalah masalah yang gampang dan biasa. Hingga tidak ada kebutuhan untuk mempelajarinya lebih mendalam.
Ditangan atau di kantong anda ada gawai-tilpun genggam. Pernahkah anda mempelajari cara meng-operasikan setiap aplikasi bawaan-nya secara tuntas ?
Tahu dan bisakah anda menggunakan setiap aplikasi yang hebat itu ?
Pertanyaan terakhir, sudah tuntaskah anda membaca dan memahami manual book atau buku petunjuk penggunaanya. Ingat, setiap gawai memiliki hal-hal yang unik dan tersendiri.
Begitupun, pengalaman-pengalaman manusia. Akan memperkaya khasanah pemahaman. Pada gilirannya akan meningkatkan efektivitas dan produktivitas kinerja anda.
Semua upaya belajar, anda sudah amat tahu manfaatnya. Diantaranya mendekatkan anda pada tujuan-tujuan, target-target pribadi. Target dunia dan akhirat anda.
Semoga.
