Cerpen | Rapat Di Aula Megah Universitas
Soetiyastoko
Para magister dan doktor itu berduyun-duyun meninggalkan aula kampus. Acara yang dalam undangan disebut “Rapat Besar Dosen Dengan Pimpinan Yayasan & Pimpinan Universitas” , baru saja bubar.
Ratusan wajah-wajah kusam itu antri di depan pintu-pintu lift. Diam. Tak ada yang bicara.
Namun dimuka-mukanya, tampak kecewa bahkan sakit hati.
Rapat, meeting, pertemuan, kongres, mestinya beda dengan breifing atau ajang pemberian motivasi. Membangun optimisme.
Rapat yang disebut rapat dalam undangan itu, nyatanya tak memberi kesempatan peserta berpendapat. Hanya searah ! Gilanya, isi-nya lebih banyak marah-marah.
Adapun yang membuat lebih parah, yang bicara itu, katanya mewakili ketua yayasan. Dia anaknya ketua yayasan.
Sejak awal, universitas ini sebenarnya banyak mengandung masalah. Bentuk organisasi-nya: yayasan nirlaba. Nyatanya ini adalah perusahaan keluarga yang bergerak di bidang pendidikan.
Ini bukan organisasi sosial, tapi bisnis pencari profit bagi pemilik yayasan.
Kira-kira seperti itu yang berkecamuk dibenak para dosen yang tidak “di-dosenkan” itu.
Kalimat-kalimat lisan anak muda -yang- berbicara atas nama bapak-nya itu, sungguh amat nyelekit di hati. Tak pantas disuarakan dari atas mimbar terhormat.
Mimbar yang biasa digunakan menyambut, memotivasi, mengarahkan para wisudawan.
Hari ini digunakan untuk mencerca para magister dan doktor, yang selama ini mengajar di kampus bergedung megah itu.
Kejadian tadi itu, teramat tak pantas dan memalukan universitas, apalagi sampai didengar umum.
Semoga saja, rekaman acara tadi, tidak tersebar luas. Apalagi, bila sampai dipenggal-penggal dan di-unggah di media sosial. Di TikTok, YouTube atau diberbagi portal berita.
Tomtam, Tomtom, Tamtam, Timtom, Timtim dan Temtem, sebut saja begitu namanya. Tak langsung pulang. Namun mampir dulu di warung kopi, di seberang kampus megah yang berdiri sombong di lingkungan perkampungan kumuh.
“Lu pikir enak, dapat bea-siswa dikampus ini ?”
“Lu pikir hebat, dapat ikatan dinas di sini ?”
“Kita jadi terjajah dan di semena-menakan !”
“Kita, benar-benar di-injak-injak anak pemilik yayasan !”
“Marwah profesi dosen kita, sama sekali tak dihargai. Bahkan dihina !”
“Gara-gara ikatan dinas S2, kita tak punya daya tawar. Do not have bargaining position !”
“We are become looser, karena kita sudah tanda tangan perjanjian !”
“Kenapa, kita tidak kritis saat di kumpulkan, … Tanda tangan perjanjian, ….?!”
“Tidak tanya, hak-hak kita, … Hanya diperdengarkan kewajiban kita saja !”
“Kita, sudah terperangkap jebakan batman !*
“Kita diminta mendukung upaya menaikan grade universitas, diminta mempermudah kelulusan mahasiswa, … Walau, belum layak lulus, …. !”
“Yaa, ya, yaa, …. tidak di-definisikan: seperti apa kualitas yang dikehendaki universitas, …?”
“Apakah mahasiswa yang memang benar-benar belum menguasai materi kuliah harus diluluskan juga, … ?!”
“Jika begitu, maunya, apa-beda kita dengan perguruan tinggi penjual ijasah bodong ?!”
Obrolan di warung kopi itu, bukan obrolan. Tapi saling lontarkan kalimat. Bukan diskusi.
“Oke-oke, … Tapi kita tak mungkin meninggalkan kampus ini. Kita terikat perjanjian, …. Kecuali ada pihak lain yang mau merekrut kita dan mau membayar dendanya, …”
“Itu imposible bin tidak mungkin, …”
“Ini pelajaran penting, jangan dulu senang, jika ditawarkan bea siswa ikatan dinas. Harus jelas hak dan kewajiban setiap pihak, …”
“Kita ini sudah mirip TKI yang disekap di Kampuchea, …”
“Tidak gitu-gitu amat-lah, … Tapi benar disisi gaji, magister yang dibayar sama besar dengan SatPam yang tamatan SMA, …!”
“Betul-betul-betul, kata Ipin-Upin, jika ditambah uang lembur, para SatPam itu, sudah bisa menerima kredit rumah, …”
Mencatat ucapan para magister yang namanya semua berawalan “T” itu, melelahkan. Tapi aku termasuk ada di dalamnya.
Aku dan teman-teman dituntut untuk segera sekolah S3. Tapi akan dibiayai apa, dari mana. Pendapatan saat ini saja, jauh untuk bisa hidup layak. Masih harus kerja sana-sini. Dari ngojek online, jualan ini-itu.
Kami diminta ikhlas dan sabar, oleh anak pemilik yayasan. Dia bilang, dosen itu posisi dan profesi mulia. Banyak pahalanya, untuk bekal akhirat.
Itu, kami tahu !
Kami bisa sabar dan ikhlas, tapi orang rumah, butuh hidup. Butuh biaya kontrak rumah, anak butuh biaya sekolah, ….
Bagaimana bisa membuat keluarga kami ikut ikhlas dan sabar dalam hal ini. Saya sih bisa sabar dan ikhlas, istri dan anak belum tentu, ….
Beda dengan kamu, ….
Pendaftaran mahasiswa baru tidak bertambah, tinggal marah-marah. “Universitas dalam bahaya, tidak ada pertumbuhan. Stagnan !” , itu kata-mu tadi.
Kamu juga marah, saat membuka data akreditasi status fakultas-fakultas. Tak kunjung meningkat signifikan. Hanya sedikit dosen yang berhasil mencapai posisi lektor kepala.
“Hanya sedikit” katamu, ditambah kata “sekali” dosen yang mampu menulis di journal nasional. Apalagi yang di level internasional, hanya dosen yang itu-itu saja. “Tak sampai lima jari, tak sepadan dengan gedung kampus yang megah dan mewah !” , marah-mu melebar kemana-mana.
“Lalu, bagaimana, kita bisa naik level akreditasi ? Padahal itu akan jadi salah satu dasar, menaikan uang pangkal dan tarif biaya kuliah per-semester mahasiswa. Hanya itu yang nantinya dapat memperbaiki skema gaji dan tunjangan kalian !”
Ini sungguh gila, anak kemarin sore itu bicara sambil menunjuk-tunjuk telunjuknya. Kesetiap arah audience yang semua adalah dosen. Magister, doktor hingga profesor.
Wooii !
Kamu keterlaluan !
Bum
Cerpen | Rapat Di Aula Megah Universitas
Soetiyastoko
Para magister dan doktor itu berduyun-duyun meninggalkan aula kampus. Acara yang dalam undangan disebut “Rapat Besar Dosen Dengan Pimpinan Yayasan & Pimpinan Universitas” , baru saja bubar.
Ratusan wajah-wajah kusam itu antri di depan pintu-pintu lift. Diam. Tak ada yang bicara.
Namun dimuka-mukanya, tampak kecewa bahkan sakit hati.
Rapat, meeting, pertemuan, kongres, mestinya beda dengan breifing atau ajang pemberian motivasi. Membangun optimisme.
Rapat yang disebut rapat dalam undangan itu, nyatanya tak memberi kesempatan peserta berpendapat. Hanya searah ! Gilanya, isi-nya lebih banyak marah-marah.
Adapun yang membuat lebih parah, yang bicara itu, katanya mewakili ketua yayasan. Dia anaknya ketua yayasan.
Sejak awal, universitas ini sebenarnya banyak mengandung masalah. Bentuk organisasi-nya: yayasan nirlaba. Nyatanya ini adalah perusahaan keluarga yang bergerak di bidang pendidikan.
Ini bukan organisasi sosial, tapi bisnis pencari profit bagi pemilik yayasan.
Kira-kira seperti itu yang berkecamuk dibenak para dosen yang tidak “di-dosenkan” itu.
Kalimat-kalimat lisan anak muda -yang- berbicara atas nama bapak-nya itu, sungguh amat nyelekit di hati. Tak pantas disuarakan dari atas mimbar terhormat.
Mimbar yang biasa digunakan menyambut, memotivasi, mengarahkan para wisudawan.
Hari ini digunakan untuk mencerca para magister dan doktor, yang selama ini mengajar di kampus bergedung megah itu.
Kejadian tadi itu, teramat tak pantas dan memalukan universitas, apalagi sampai didengar umum.
Semoga saja, rekaman acara tadi, tidak tersebar luas. Apalagi, bila sampai dipenggal-penggal dan di-unggah di media sosial. Di TikTok, YouTube atau diberbagi portal berita.
Tomtam, Tomtom, Tamtam, Timtom, Timtim dan Temtem, sebut saja begitu namanya. Tak langsung pulang. Namun mampir dulu di warung kopi, di seberang kampus megah yang berdiri sombong di lingkungan perkampungan kumuh.
“Lu pikir enak, dapat bea-siswa dikampus ini ?”
“Lu pikir hebat, dapat ikatan dinas di sini ?”
“Kita jadi terjajah dan di semena-menakan !”
“Kita, benar-benar di-injak-injak anak pemilik yayasan !”
“Marwah profesi dosen kita, sama sekali tak dihargai. Bahkan dihina !”
“Gara-gara ikatan dinas S2, kita tak punya daya tawar. Do not have bargaining position !”
“We are become looser, karena kita sudah tanda tangan perjanjian !”
“Kenapa, kita tidak kritis saat di kumpulkan, … Tanda tangan perjanjian, ….?!”
“Tidak tanya, hak-hak kita, … Hanya diperdengarkan kewajiban kita saja !”
“Kita, sudah terperangkap jebakan batman !*
“Kita diminta mendukung upaya menaikan grade universitas, diminta mempermudah kelulusan mahasiswa, … Walau, belum layak lulus, …. !”
“Yaa, ya, yaa, …. tidak di-definisikan: seperti apa kualitas yang dikehendaki universitas, …?”
“Apakah mahasiswa yang memang benar-benar belum menguasai materi kuliah harus diluluskan juga, … ?!”
“Jika begitu, maunya, apa-beda kita dengan perguruan tinggi penjual ijasah bodong ?!”
Obrolan di warung kopi itu, bukan obrolan. Tapi saling lontarkan kalimat. Bukan diskusi.
“Oke-oke, … Tapi kita tak mungkin meninggalkan kampus ini. Kita terikat perjanjian, …. Kecuali ada pihak lain yang mau merekrut kita dan mau membayar dendanya, …”
“Itu imposible bin tidak mungkin, …”
“Ini pelajaran penting, jangan dulu senang, jika ditawarkan bea siswa ikatan dinas. Harus jelas hak dan kewajiban setiap pihak, …”
“Kita ini sudah mirip TKI yang disekap di Kampuchea, …”
“Tidak gitu-gitu amat-lah, … Tapi benar disisi gaji, magister yang dibayar sama besar dengan SatPam yang tamatan SMA, …!”
“Betul-betul-betul, kata Ipin-Upin, jika ditambah uang lembur, para SatPam itu, sudah bisa menerima kredit rumah, …”
Mencatat ucapan para magister yang namanya semua berawalan “T” itu, melelahkan. Tapi aku termasuk ada di dalamnya.
Aku dan teman-teman dituntut untuk segera sekolah S3. Tapi akan dibiayai apa, dari mana. Pendapatan saat ini saja, jauh untuk bisa hidup layak. Masih harus kerja sana-sini. Dari ngojek online, jualan ini-itu.
Kami diminta ikhlas dan sabar, oleh anak pemilik yayasan. Dia bilang, dosen itu posisi dan profesi mulia. Banyak pahalanya, untuk bekal akhirat.
Itu, kami tahu !
Kami bisa sabar dan ikhlas, tapi orang rumah, butuh hidup. Butuh biaya kontrak rumah, anak butuh biaya sekolah, ….
Bagaimana bisa membuat keluarga kami ikut ikhlas dan sabar dalam hal ini. Saya sih bisa sabar dan ikhlas, istri dan anak belum tentu, ….
Beda dengan kamu, ….
Pendaftaran mahasiswa baru tidak bertambah, tinggal marah-marah. “Universitas dalam bahaya, tidak ada pertumbuhan. Stagnan !” , itu kata-mu tadi.
Kamu juga marah, saat membuka data akreditasi status fakultas-fakultas. Tak kunjung meningkat signifikan. Hanya sedikit dosen yang berhasil mencapai posisi lektor kepala.
“Hanya sedikit” katamu, ditambah kata “sekali” dosen yang mampu menulis di journal nasional. Apalagi yang di level internasional, hanya dosen yang itu-itu saja. “Tak sampai lima jari, tak sepadan dengan gedung kampus yang megah dan mewah !” , marah-mu melebar kemana-mana.
“Lalu, bagaimana, kita bisa naik level akreditasi ? Padahal itu akan jadi salah satu dasar, menaikan uang pangkal dan tarif biaya kuliah per-semester mahasiswa. Hanya itu yang nantinya dapat memperbaiki skema gaji dan tunjangan kalian !”
Ini sungguh gila, anak kemarin sore itu bicara sambil menunjuk-tunjuk telunjuknya. Kesetiap arah audience yang semua adalah dosen. Magister, doktor hingga profesor.
Wooii !
Kamu keterlaluan !
Bumi Puspita Asri, 01/09/2022 10:50:08
i Puspita Asri, 01/09/2022 10:50:08
