Motivasi : PERTANYAAN, KENAPA DITANYAKAN BILA SUDAH TAHU JAWABAN-NYA ?
!

Soetiyastoko
Kalimat yang dijadikan judul di atas, bagi sebagian orang, terdengar menggelikan. Bahkan dianggap hanya buang waktu saja, tak ada manfaat memperhatikannya.
Dianggap sama sia-sia-nya dengan ucapan seorang komandan yang mengulang jawaban panglima.
Dalam upacara, seorang panglima atau inspektur upacara hanya menjawab dengan satu kata : “Laksanakan” atau “Bubarkan” . Atas jawaban itu, sang komandan mengulangnya dengan tanda seru yang lebih banyak.
Suaranya, lebih lantang dan amat keras. Terdengar tegas. Diteriakan !
Mengapa harus begitu ? Bukankah itu buang tenaga dan sia-sia belaka ? Bahkan berpotensi mengganggu pendengaran orang lain.
Demikian juga pertanyaan seorang anak, saat diajarkan bahwa kelak di alam kubur, setiap manusia akan ditanya, diinterogasi oleh malaikat ?
“Mengapa dia tidak bertanya pada kawannya saja, atau, membaca catatan perbuatan dari manusia yang sudah mati itu ?”
“Bukankah, kemarin, ibu guru sudah mengajarkan bahwa, bagi setiap manusia, ada dua orang malaikat yang bertugas mencatat. Bahkan satu malaikat khusus mencatat kebaikan, lainnya khusus menulis perbuatan tercela, dosa ?”
Ada guru yang dengan tenang berusaha memberikan jawaban yang dapat diterima akal sehat. Namun tak jarang yang terpicu marah, mendengar pertanyaan seperti itu.
“PERTANYAAN, KENAPA DITANYAKAN BILA SUDAH TAHU JAWABAN-NYA ?!”
Mubazir bin sia-sia belaka. Menguji yang sudah teruji dan sudah amat jelas ?
Atau, mengkonfirmasi ?
Sang guru bijak menjawab, dengan lembut dan tenang.
“Murid-ku yang cerdas, semua itu karena Maha Bijak-Nya, Pencipta-mu”
“Tapi mengapa ditanya pula: dari mana kau dapat harta-mu dan kau gunakan untuk apa saja harta-mu itu ?”
Bukankah semua itu sudah jelas dan tercatat dengan baik, karena dilakukan oleh malaikat-malaikat. Bukankah mereka itu makhluk yang dicipta jujur dan patuh.
“Murid-ku yang hebat, pertanyaan-mu logis dan cerdas !”
Semua itu terjadi, bukan sekedar karena diada-adakan, agar malaikat tidak nganggur dan ada tugas. Ada fungsinya, tidak sia-sia.
Semua itu diadakan dan dilakukan semata-mata karena kasih-sayang dari Sang Maha Pengadil, kepada setiap manusia.
Dengan cara-cara itu, setiap manusia merasakan betapa rahmat dan rahim -Nya, Beliau.
Tidak ada manusia yang diperlakukan semena-mena. Tidak ada yang tanpa “ba-bi-bu” langsung diganjar.
Setiap manusia, diberi kesempatan mengingat dan tahu setiap yang pernah dikerjakannya.
Saat mulut manusia dikunci dan seluruh anggota badannya diminta bersaksi atas setiap yang dilakukan, itu pun demi kepentingan manusia itu sendiri.
Agar bisa jelas dan tahu, dengan demikian bisa legowo saat menerima konsekuensinya.
Bisa menerima hukuman atau hadiah yang setimpal. Dapat menyesali diri sendiri atau bersyukur.
Telah diperlakukan secara amat adil. Tak ada dirugikan sedikit pun, meski hanya sebesar zahra bin atom.
“Baik-lah guru-ku, aku kini paham. Terima kasih, …. Tapi, bagaimana dengan komandan yang berteriak keras, mengulang ucapan panglima atau inspektur upacara ?”
“Benar murid-ku yang pandai, seperti dugaan-mu. Itu adalah sebentuk ‘konfirmasi’ atas perintah yang telah didengarnya. Jelas dan agar diketahui oleh sang inspektur, bahwa itu dipahaminya. Tidak ada deviasi pemahaman, atas perintah yang diterima”.
Di ujung tulisan ini, selain murid yang kritis bertanya, teman-temannya pun paham. Akan bersiap diri agar bisa menjawab pertanyaan, “Uang-mu kau dapat dari mana ?” & “Uang-mu kau gunakan untuk apa ?”
“Semoga diriku dijauhkan dari maksiat”, bisik do’a-nya usai subuh.
—ooo000ooo—
Perumahan Permata Bekasi II, Kel. Duren Jaya, Kec. Bekasi Timur.
Bekasi, Indonesia 17111
Senin 23/01/2023 05:40:34
