Anak-anakAneka TipsBalitaMOTIVASI & PSIKOLOGI POPULERPARENTINGRemajaSosial

Soetiyastoko : PEMBIASAAN HAL-HAL YANG BAIK, ADALAH BAGIAN PENTING DARI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK & BANGSA

Koleksi Kang Endang JACK Setiawan

Ala bisa karena biasa” , adalah kalimat klise yang sarat makna. Itu bukan gurauan, namun nasehat yang perlu dicermati, dipahami dan dilaksanakan.

Perihal pembiasaan kebaikan, biasanya lebih sulit, lebih membutuhkan perhatian dan kesungguhan untuk menanamkannya.

Berbeda dengan hal-hal buruk, dia bisa tumbuh subur dengan sendirinya.

Analogi yang sangat tepat adalah, “Kala petani menanam padi, perlu kesungguhan dan ketelatenan memelihara dan merawatnya”.

Genangan air harus cukup, tidak boleh berlebihan hingga terbenam bin terendam batang dan daunnya.

Pada masa pertumbuhan awal, amat tidak boleh, sampai kekekeringan. Namun 2 sampai 3 minggu jelang panen padi, sawah tidak boleh digenangi air. Lahan sawah, cukup di-air-i sekedar basah saja.

Analogi yang lain tentang “pembiasaan”, berbunyi sbb., “Disaat petani, menanam padi akan tumbuh dengan sendirinya, berbagai jenis tanaman liar, sejenis perdu dan rerumputan”.
Petani menyebutnya “gulma”.

Tanaman liar ini harus dicabut dan dibuang. Jika dibiarkan tumbuh, akan mengganggu perkembangan padi. Pada gilirannya, akan mengurangi jumlah “tonase” gabah yang dipanen.

Ada peribahasa lainnya yang penuh makna, “Saat menanam padi, rumput tumbuh sendiri. Kala menanam rumput, tak ada padi yang ikut tumbuh.”

Dengan kata lain, “Pembiasaan akan hal-hal yang baik, masih bisa tercemar dengan kebiasaan yang buruk”

Di sisi lain, “Lingkungan sosial yang buruk, tidak pernah menumbuhkan kebiasaan baik. Hanya hal-hal yang buruk tumbuh menjadi kebiasaan orang-orang di lingkungan ybs.”.

Terang-lah, bahwa untuk menumbuhkan karakter anak, kearah yang baik-baik. Lingkungannya harus yang biasa melakukan dan berbuat baik.

Terutama lingkungan terdekatnya, di keluarga inti. Ayah dan ibu, adalah suri-teladan karakter anak.

Ayah dan ibu, bertanggung jawab untuk membiasakan banyak hal yang baik, kepada setiap anak yang dilahirkanya, atau yang dalam pengasuhan.

Moralitas dan mentalitas anak bangsa, amat tergantung pada setiap ayah dan ibu, di lingkungan keluarga inti.

Kita kini menyadari, bahwa kenakalan remaja dan anak, adalah produk kegagalan pembiasaan hal-hal baik oleh orangtua-nya.

Tidak adil, bila hanya menyalahkan kelakuan remaja bermasalah, kepada mereka.

Kita, harus menyadari dan memperbaiki diri sendiri dalam hal, pembiasaan sebanyak mungkin hal-hal baik sedini mungkin ; kepada setiap anak keturunan kita.

Revolusi mental bangsa, agar menjadi lebih positif dan produktif, hanya omong kosong. Jika tidak di mulai segera dari setiap keluarga inti.

Ada kalimat nasehat yang kini, terdengar “nyelekit”, ….
“Mana mungkin, anak-anak tumbuh jadi manusia mulia, soleh-solehah, jika dinafkahi dari sumber yang haram, …”

Semoga setiap kita dimudahkan-Nya mencari rejeki halal & setiap kita tidak tergiur sesuatu yang haram.

Bersyukur, jika sudah terbiasa dan membiasakan banyak hal-hal yang baik, terhadap diri sendiri, keluarga inti dan lingkungan sekitar.

            --oo0oo--

Bumi Puspita Asri, Selasa, 11/01/2023 01:31:54

@ suara Ilmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *