Cerpen | Taring Kamituo
Soetiyastoko
Angin dari tadi sore berhembus kencang dan arahnya berubah-ubah. Rumpun bambu menari kesana-kemari, dengan musiknya sendiri. Derit-derit gesekan antar batang-batang bambu, mendirikan bulu roma.
Aku sengaja berlibur kesini, ingin menikmati suasana desa. Kampung nenek-ku. Tapi bukan suasana seperti ini yang kurindukan. Sama sekali bukan yang menegakan bulu-bulu halus-ku.
Aku rindu gelak tawa riang anak-anak kampung, bermain galasin, jamuran dan petak-umpet, di malam-malam purnama.
Halaman rumah yang luas, dua pohon kelekeng berjarak sekitar lima belas meter. Jarak yang sama dengan batas pagar rumah tetangga.
Disekeliling pagar itu ditanam berbagai jenis bunga yang tak terrawat. Di bawahnya dihamburkan pupuk kandang. Entah kotoran apa. Tak dikenali lagi asalnya, apakah dari kandamg sapi, domba atau ayam. Aromanya, sudah hilang
Sedangkan ditengah halamannya tak ada tumbuhan lain, hanya dua lengkeng raksasa. Buahnya selalu lebat dan biasanya sudah dibayar para tengkulak “pengijon”.
Pedagang itu bahkan sudah berani membayar, kala bunganya belum jadi pentil.
Bukan hasil bumi saja yang di-ijonkan, bahkan perjodohan pun di desa ini di-ijon-kan. Kebanyakan balita sudah di-ijonkan jodohnya kelak.
Entah atas dasar alasan apakah perjodohan seperti itu di lakukan. Katanya, ada yang menyebut alasan harta dan keturunan. Termasuk menjaga kesinambungan kekerabatan.
Bak seperti pengkastaan. Tapi ada yang menurutku gila, bayi perempuan yang baru lahir, dilamar lelaki umur 35 tahunan. Katanya calon istri muda-nya kelak.
Entah hantu-belau atau setan darimana yang membuat warga desa leluhurku ini, sadar tetapi seperti orang kesurupan.
Bapak-ku empat tahun lebih muda dari ibu-ku, perkawinan mereka pun berdasarkan perjodohan model itu. Bahkan sebelum mereka tumbuh di rahim ibunya. Jauh hari sebelum terjadi persalinan.
Menurutku ini gila. Meski menurut mereka, dalam bahasa sekarang dikategorikan “kearifan lokal” . Terbukti tak ada berita perceraian dari perjodohan model ini. Semua rukun, semua langgeng. Tak ada istilah perselingkuhan, karena perjodohan tak hanya untuk istri pertama. Untuk calon istri kedua dan selanjutnya, pun biasa dilakukan.
Kalian mungkin sulit membayangkan, bagaimana seorang bocah usia 6 tahun. Bahkan baru didaftarkan masuk sekolah dasar, dia sudah tahu: dirinya calon istri keempat pak kamituo. Seorang yang bertanggung jawab atas keamanan kampung.
Mustaye, namanya. Kulitnya kuning mirip ibunya, wajahnya persis bapaknya. Rupawan.
Pak Kamituo itu, seperti dukun. Tahu bahwa anak yang akan lahir dari pasangan petani gurem itu, akan jadi perawan yang memukau.
Orangtua-nya pun merasa terhormat, bayinya dilamar pak kamituo.
Baginya, ini kesempatan menaikan derajat dan martabat. Jadi terbuka peluang anaknya naik kelas.
Tak akan seperti dirinya, buruh tani yang papa, tak punya lahan ladang atau pun sawah.
Ceritaku jadi kemana-mana. Angin masih saling berkejaran. Kini ditambah hujan, terkadang seperti gerimis, sesaat kemudian seperti ada kerikil yang dihamburkan di atas genting.
Bersyukur, tak ada genting yang tersungkur diterjang angin ribut.
Genting model kodok, buatan Karangpilang. Daerah penghasil gerabah hebat itu letaknya antara kota Kepanjen dengan Malang.
Sebenarnya kata asli yang kugunakan untuk menyebut orang tua bapak ibu-ku, bukan nenek-kakek. Di kampung leluhurku tidak lumrah sebutan seperti itu.
Kami menyebutnya mbah kakung dan mbah putri.
Untuk mempertegas sebutan nenek-kakek dari ibu dan bapak-ku, ditambah kata “etan” dan “kulon”. Bukan “ketan” dan “kelon” , yaa !
Mbah kakung etan dan mbah putri etan mereka orangtua-nya ibu-ku. Jadi yang pakai embel-embel “kulon”, hah, kalian benar: bokap-nyokap-nya babe gua.
Hujan makin deras saja, aku jadi ingat pesan almarhum mbah putri etan, saat seperti ini, setiap doa kemungkinan besar dikabulkan oleh Sang Pengabul doa manusia, …..
“Yaa Allah, pertemukanlah aku dengan jodohku, …. Bila dia jauh, kumohon segera dekatkanlah. Bila dia masih miskin, jadikan dia kaya yang barokah. Bila dia kaya, pastikan bukan hasil dari maling, aku tak mau punya suami yang jadi buruan KPK, ….
Bila dia bergajulam, jadikan dia soleh, agar jadi imam-ku yang taat kepada-Mu., ….”
Hujan itu seperti batu, berjatuhan dari langit. Bersyukur genteng kodok rumah mbah kakung, asli buatan Karangpilang. Kokoh dan kuat. Disangga reng, usuk dan blandar kayu jati tua, asli dari Blora, Jawa tengah.
“Nduk, cah ayu, rene-o, … Ojo nang teras dewean, …. kancan-nono mbah-mu iki, …”
(Putri, yang cantik, ke-sinilah, …. Jangan sendirian di teras, … temanilah kakek-mu ini)
Suara itu menghentikan doa-ku yang ku-ucapkan keras-keras. Menembus suara hujan.
Aku sangat yakin didengar Tuhan. Tapi doa-ku belum selesai. Masih “berjibun” bermacam permintaan yang ingin kusampaikan pada Dia yang Maha Agung.
“Duh ! Gusti, aku ingin melanjutkan doa-ku ! Tapi mbah kakung memanggilku, …. Bagaimana ini ?”
Tiba-tiba pundak-ku ada yang menggamit.
“Seerrrrr, …. “
Tengkuk-ku bergidik, pori-pori menguncup. Bulu-bulu di lengan dan di kaki-ku tegak.
Merinding !
Hantu itu kini pindah ke belakang-mu. Ada sorot matanya tapi tak ada bintik hitam dan putihnya.
Hanya bolong !
Hidungnya entah kemana, tinggal rongga yang busuk. Seperti jejak cacat akibat sipilis, penyakit kelamin. Sebelum ditemukan tetrasiklin, antibiotik.
Aku tak bisa bersuara , meski sudah teriak. Wajah itu tinggal sebagian pipinya.
Gigi geraham masih tersisa beberapa. Taring-nya berdarah. Gigi depan satu tanggal, satunya lagi merongos. Seperti menunjuk hidung-ku.
Dia semakin delat, baunya amis seperti kandang bebek bercampur wangi pandan !
“Kamu, …. kamu, …. cantik-cantik berbohong !”
Matanya lurus, menembus kepala-ku
“Katanya, kamu sudah dijodohkan, sebelum ibu-mu dikawinkan !”
Sssssshhh, sssssshhh, …
“Nyatanya kamu sudah setua ini masih jomblo !”
Sssssshhh, sssssshhh, …
“Aku dengar semua doa-mu tadi….. Pasti kamu jujur pada Tuhan-mu, ….. Yaa, … kamu masih jomblo ‘kan ?!”
Sssssshhh, sssssshhh, …
“Mesti-nya kamu jadi istri ke-empatku, …. Kamu seharusnya ibu dari anak-ku yang kedua puluh tiga dan si ragil yang kedua lusin”
Sssssshhh, sssssshhh, …
“Orangtua-mu dan kamu telah melanggar adat dan adab leluhur kita, …”
Ssssshhh, …ssssshhh, …
“Cantik-ayu, kau telah khiamati takdir-mu, … Kau telah jadi laknat ontran-ontran, …. Seharusnya dari rahim-mu lahir anak-anak kita, yang, mempersatukan bangsa.
Jika saja kamu tak berbohong dan jadi istri terakhirku, negara ini tak akan terbelah, hanya karena kata “cebong” dan “kampret”
Sssshhh, …ssssshhh, …
Telinga-ku berdengjng-denging, ini iring-iringan pejabat ganjen atau konglomerat penguasa uang yang minta dikawal para oknum yang cari modal untuk kawin siri. Tambah istri ?
Punggung-ku dingin, ada yang menancap di lengan-ku. Sakit ! Ingjn kucabut, tapi tak kuasa. Itu taring ! Gigi itu tanggal saat menggjgitku.
Wajah seram, mata bolong dan pipi yang tinggal secuir itu, bergerak-gerak. Lalu seperti tumbuh kembali !
Lamat-lamat makin jelas, wajah itu ganteng. Kumisnya tipis, senyum-nya manis !
Dia Pak Kamituo ! Orang yang ditolak ayah-ku saat melamar aku. Dia salah satu juragan dari rombongan yang mengantar ibu-ku ke bidan. Untuk melahirkan-ku.
“Putu-ku, nduk cah ayu, irung-mu bangir, koyo irunge Srikandi. Moto-mu mblalak, ayu moblong tenan” (Cucu-ku yang cantik, hidung-mu mancung dan lancip, seperti hidungnya Srikandi, Mata-bulat berbinar, sungguh amat cantik)
“Mbah Kakung, aku di mana ? Aku takut Mbah, aku takut pak kamituo, …”
“Nggak usah takut ‘nduk, pak kamituo sudah almarhum 40 hari yang lalu, …. Seharus tadi, Mbah ikut baca doa untuknya, kamu kan tahu pak kamituo itu, bapaknya mbah putri-mu sing enom. Mbak kakung-mu ini mantunya pak kamituo”
Sssshhh, … ssssshhh …
“Nduk, sebentar lagi ambulance ini sampai rumah sakit, …. Maaf yaa nduk, tadi Mbah memanggilmu terlalu lantang, ….”
“Memangnya, kenapa Mbah ?”
“Lantai teras itu sebagian basah, licin. Kamu terjatuh nggeblak terpeleset, saat mau masuk rumah, …”
***
