Catatan Usaha Dan Apa Saja Yang Harus Dicatat
Serial Bimbingan Usaha & Kerja
Soetiyastoko
Setiap orang bisa membuat catatan usaha dengan versi-nya sendiri-sendiri. Untuk catatan keuangan, bisa kita contoh pola yang diajarkan, pada pelajaran “Tata Buku” , “Neraca Laba-Rugi”, “Laporan Keuangan” atau yang dengan bentuk dan sebutan lainnya.
Lalu bagaimana dengan pencatatan rencana kerja, rinciannya termasuk tahapan langkah-langkah yang akan dan yang sudah lakukan.
Beruntung, kini sudah jaman digital. Kita bisa mencatat dan menghitung di komputer. Bahkan bisa lebih praktis, gawai pintar dan tablet juga bisa digunakan di mana saja. Termasuk darinya bisa mendapatkan contoh-contoh berbagai catatan usaha.
Dalam tulisan ini akan lebih difokuskan pada hal-hal yang utama.
Rencana adalah patokan yang digunakan untuk bekerja. Resep atau formula suatu produk jasa atau barang yang telah ditentukan dan harus dipatuhi.
Contoh, seorang tukang jahit. Sebelum mengukur badan seseorang yang memberi order. Pertama yang dilakukan adalah menanyakan, akan dijadikan apa kain itu, lalu mengukur lebar kain, untuk memastikan “cukup” dijadikan kemeja, celana atau jas.
Seorang dengan usaha menjual masakan, dia mencatat secara rinci resep-resrep makanannya. Bahkan, misalnya, pada penggunaan bawang putih, dibedakan timbangannya bila berbeda kualitasnya.
Bila bawang putihnya hasil pertanian daerah tertentu cukup 1 kilogram, tapi bila dari lokasi lain harus 1,2 kilogram. Pertimbangannya adalah “potensi kekuatan” rasa yang berbeda.
Demikian juga dilakukannya untuk bahan-bahan masakan yang lain.
Hal itu dilakukan untuk menjamin rasa yang sama dari hari ke hari. Masakan yang dijual dipastikan selalu enak dan rasa tidak berubah-ubah. Demi kepuasan dan kesetiaan pelanggan.
Seorang account officer bank atau tenaga penjual jasa bank / salesman bank, tentu yang dijual antara lain “layanan” atau servis yang baik.
Nasabah umumnya sudah tahu produk jasa bank. Penyimpan, pengiriman, peminjaman. Yaa hanya seputar itu, meski penamaannya bisa aneka raga dan berbeda-beda.
Seorang “sasaran bin calon nasabah” , tentu sudah diseleksi dan di catat dalam “rencana kerja, sasaran calon nasabah”.
Para calon nasabah yang digarap itu biasanya terdiri pelanggan yang sudah didapat / existing dan calon nasabah. Bahkan yang disebut calon nasabah ini, sebagian besar sudah jadi nasabah bank yang lain.
Lalu bagaimana caranya, untuk bisa merebut, atau, minimal mendapatkan sebagian porsi kerja sama dari nasabah-nya bank lain ?
Account officer itu harus punya catatan perihal calon nasabah yang akan atau sedang digarap.
Dia harus mampu membangun jalinan hubungan baik. Bila targetnya ingin dapat “merebut sebagian porsi” dari pesaing.
Artinya butuh waktu. Butuh proses. Jangan pernah berharap seperti, “gigit cabe rawit, seketika terasa pedas-nya”.
Jika pun sampai jumpa yang “langsung pedas” bin langsung mau jadi nasabah. Account officer itu harus waspada, bisa jadi, calon nasabah itu bermasalah.
Mencatat, mengumpulkan, mempelajari data, adalah bagian penting dari kehidupan mencari nafkah. Bekerja bagi sendiri atau pun jadi pekerja pihak lain. Hal itu harus dijalankan. Buatlah catatan yang tertib, berpola dan berkelanjutan.
Sebuah upaya yang sungguh-sungguh dan harus konsisten, demi kepuasan serta kesetiaan pelanggan dan keberlanjutan sumber nafkah.
