BudayaPOLEKSOSBUD

Budaya | Nongkrong-Nongkrong Di Pojok Jalan, Modal Jadi Orang “Hebat”

Soetiyastoko

Sahabat Suara Ilmu, …
Kuharap diri-kalian selalu sehat dan sukses.

Aamiin Yaa Allah, aamiin, …

Bagaimana pendapat-mu atas paragraf di bawah ini ?

Perjalanan pertumbuhan sosial budaya kita terlihat pengaruhnya, terhadap aksesabilitas seseorang ke jabatan politik. Kini telah berbeda dengan kondisi di awal kemerdekaan.

Jika dulu, para pegiat politik “darah dagingnya” dan kesehariannya adalah aktivitas inten dalam organisasi sosial politik, organisasi masa.

Kini sudah berbeda, … Seseorang yang dikenal publik dalam bidang apapun, kini bisa tiba-tiba “menclok” di jabatan publik, jabatan politik.

Seorang pemain musik, penyanyi, komedian, penulis lagu, dosen, pengusaha, pelawak, aktris, wartawan, penyiar radio, pembawa acara di televisi dan lain-lain profesi ; keterkenalannya adalah aset, sekaligus bisa jadi modal politik.

Siapapun yang disukai bin populer, punya peluang besar atas tingkat keterpilihan, jadi vote getter bin peraih suara Rakyat bagi partai politik.

Dimasa kini, bagi partai politik, “daya keterpilihan” sesorang, adalah bagian yang amat penting, saat menetapkan daftar calon legislatif. Termasuk saat menetapkan calon kepala dan wakil kepala daerah.

Popularitas kini jadi faktor penting keterpilihan seseorang. Sedangkan kemampuan teknis menejerial dan rekam jejak aktivitas politik, jadi nomer sekian.

Yaa popularitas, identik dengan banyaknya penggemar. Hal itu dengan sedikit polesan, mudah dikonversi pada “keterpilihan” di medan persaingan, pemilihan umum.

Baik sebagai wakil rakyat maupun sebagai kepala daerah.

Bagaimana dengan tugas menghimpun kehendak rakyat dan memperjuangkannya di forum dewan ? Bagaimana dengan kapasitas menejerial saat memimpin daerah ?

Itu nomer sekian, syukur bila mumpuni. Namun bila tidak mahir, tinggal membentuk tim penasehat terdiri dari para ahli, atau kawan-kawan sendiri.

“Titik awal keberangkatannya” , how to be win, yang penting menang. Bisa berkuasa. Bisa menguasai peluang-peluang yang menguntungkan secara finansial. Bagi pribadi dan para pemimpin partai pendukung.

Sekaligus sebagai konsesi atas dukungan pemenangan dari para pihak saat kampanye. Termasuk memberi ruang pada partai, bekerja dibelakang layar.

Pendeknya, semua bisa diatur, bahkan kepada kelompok pesaing politik, dapat saja diajak sharing power bin bagi-bagi kekuasaan. Agar tidak melakukan manuver yang merongrong. Tidak mengganggu jalannya pemerintahan.

Aah ! Masak, sih ?!

Salah satu politikus beken, mensitir pendapat ilmuwan sosial politik: “Seni merundingkan, menegosiasikan kepentingan, serta bagi-bagi kewenangan, itulah esensi berpolitik”.

Benarkah demikian ? Bagaimana yang dirasa dan yang terpikirkan oleh para pembaca sekalian ?

Beruntungnya, tak semua politisi serendah itu. Masih banyak yang sungguh-sungguh berjuang. Demi kebaikan dan kemajuan bangsa-nya.

Tidak sekedar cari peluang untuk keinginan pribadi dan pendapatan yang berkali-kali, upah minimum regional, UMR

Maka penulis hanya bisa garuk-garuk kepala, saat mendengar jawaban sekelompok anak muda; saat larut malam ditegur. Supaya berhenti bergitar, teriak-teriak nyanyi dan joget di pojok jalan.

“Hai kalian, mau jadi apa ? Jam segini masih berisik nongkrong-nongkrong !”

“Saya mau jadi bupati, Pak RT”
Yang lain menyambung,
“Mau jadi wakil rakyat, …”
“Mau jadi komisaris BUMN “

Entah apalagi jawaban mereka, seraya membubarkan diri.

Wibawa jabatan RT, alhamdulillah masih berfungsi.


BSD, minggu 26 Juni 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *